Belajar dari balita

Mengasuh buah hati tentu membutuhkan kesabaran yang ekstra. Namun jika dicermati, sebenarnya banyak hal yang dapat dipelajari orangtua dari anak usia balita.

Bayi penyu yang baru menetas dapat langsung berjalan menuju laut untuk berenang. Bayi jerapah, kera, dan mamalia lain umumnya dapat berdiri dan berjalan hanya dalam hitungan jam setelah dilahirkan. Hal tersebut tentu berbeda dari bayi manusia yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat tegak berdiri. Tentu saja selalu ada hikmah dari ketentuan Allah bagi orang-orang yang berpikir. Sebagaimana perkataan orang beriman, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Q.S. Ali ‘Imran:191). Salah satu hikmahnya adalah orangtua mampu belajar selama proses mengasuh buah hatinya. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Memanjakan Anak dengan baik

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan” (H.R. Muslim).  Kekuatan seorang mukmin tidak semata terletak pada fisiknya, namun juga pada jiwanya. Orangtua hendaknya membantu buah hati untuk menguatkan jiwanya dan bukan justru memperlemahnya.

Kelemahan jiwa yang terbesar bagi seseorang adalah ketika ia selalu menggantungkan diri kepada bantuan orang lain, takut menghadapi tantangan, ingin segera mendapat hasil tanpa mau berpayah dengan prosesnya, dan tidak mampu menerima kekalahan. Jiwa lemah seperti ini ternyata telah mulai berkembang sejak kecil, artinya pola asuh orangtua ikut andil dalam pembentukan kekuatan jiwa anak. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Agar Anak Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala

Mengenal Sang Pencipta merupakan modal paling dasar dalam pendidikan manusia. Anak  bagaikan kertas putih bersih, dan orang tua memegang tanggung jawab untuk mengukir kalimat Laa illaha ilallah (Tiada yang layak diibadahi selain Allah) di hatinya.

Fenomena tawuran, minuman keras, narkotika, hingga pergaulan bebas pada remaja kian meresahkan. Salah satu penyebab utama kerusakan akhlak generasi muda adalah tidak memiliki bekal ihsan, yaitu perasaan bahwa Allah senantiasa mengawasi. Alangkah baik bila orang tua mulai mengenalkan Allah sejak dini, sehingga anak akan mampu menempatkan dirinya sebagai hamba yang berakhlak mulia. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Memahami Anak

Persepsi orang tua yang salah terhadap anak akan menuntun kepada perilaku pengasuhan yang kontraproduktif. Memahami hakikat anak diperlukan sebagai landasan pijak orang tua dalam bersikap.

Tindak kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anak semakin sering terjadi, hal tersebut menunjukkan hilangnya kasih sayang orang tua terhadap buah hatinya. Di sisi lain, banyak pula orang tua yang membanggakan hasil kerja kerasnya dalam mendidik anak, seolah mereka satu-satunya yang berjasa. Apakah memang demikian kodrat anak di hadapan orang tuanya? Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

Abdullah bin ‘Abbas (Wafat 68 H)

Abdullah bin Abbas adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan hadist sesudah Sayyidah Aisyah, ia meriwayatkan 1.660 hadits.

Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti Harits saudari ummul mukminin Maimunah. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar