TELEVISI

Saudaraku membeli televisi baru. Buatan Jepang.

Ukurannya sekitar 32 inch, dan aku baru tahu ternyata ukuran televisi dihitung dari sisi diagonal layarnya, bukan panjang atau lebarnya. Kalau aku tahu hal itu dari dulu mungkin sekarang aku sudah buka toko elektronik. Tidak, itu bercanda. Warna televisinya hitam, sampai sekarang aku juga belum pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri ada televisi berwarna pelangi, atau mungkin transparan sekalian jadi aku bisa melihat ada berapa keluarga kecoak yang bersarang di dalamnya dan juga bisa melihat konspirasi di balik layar suatu acara. Ah, ada-ada saja.

Aku sebenarnya tidak menyadari ada televisi baru itu di rumah saudaraku kalau saja aku tidak melihat kardus pembungkusnya. Ternyata televisi itu menempel di dinding kamar persis menghadap ke kasur. Kalau begitu posisinya, mungkin setiap malam justru televisi itu yang menonton saudaraku tidur. Satu-satunya alasan aku tidak mengetahui ada televisi baru itu adalah karena bentuknya yang ramping, dan berlayar datar sehingga dari samping aku hanya mengira itu figura foto. Memang sepertinya sekarang segala sesuatu yang ramping dan datar lebih mahal harganya, pantas saja susu diet dan susu pembentuk otot perut jadi laku. Tapi kurasa tidak bijaksana kalau badan sudah ramping dan perut sudah datar lalu dipajang di dinding depan kasur untuk tontonan sebelum tidur. Tetap saja manusia bukan televisi yang bisa dibeli lalu dijual lagi.

Kutanyakan kepada saudaraku tentang kelebihan televisi ini. Ternyata,

“Televisi ini bisa dihubungkan ke USB (flasdisk, hard disk eksternal atau semisalnya) untuk menonton berbagai macam format file video, jadi bisa nonton banyak film tanpa harus melalui laptop.” Begitu katanya.

Bagus juga menurutku, tapi tidak secanggih televisi milikku di kontrakan. Kalau televisi baru punya saudaraku itu bisa dihubungkan ke USB, maka televisi lama milikku bisa berbuat semaunya sendiri. Benar, televisiku ini bisa tiba-tiba mati. Awalnya dulu ketika itu terjadi aku bakal buru-buru masuk kamar dan tidur, khawatir kalau ternyata ada yang “menemani” nonton televisi. Sekarang itu malah jadi keuntungan tersendiri: kalau aku terburu-buru ke kampus maka aku bisa menghemat beberapa detik karena tidak perlu mematikan televisi, bisa mati sendiri. Juga kalau ternyata aku tertidur ketika televisi masih menyala, maka listrik karena televisi tidak terlalu boros, bisa mati sendiri.

Televisi milikku itu ukurannya 21 inch juga berwarna hitam, walaupun layarnya datar tapi bentuknya masih tabung sehingga sama sekali tidak bisa dikatakan ramping. Maka dari itu aku tidak berani menggantungnya di dinding, hanya kuletakkan di atas meja kayu reyot yang kaki belakangnya miring. Jadi televisiku seakan sosok yang angkuh dan sombong karena menengadah agak ke atas gara-gara meja miring itu. Kadang aku takut kalau pembaca berita di televisi bisa terjengkang ke belakang karena televisiku yang miring ini, untung saja gara-gara antenaku yang melengkung aku tidak bisa mengakses saluran yang acaranya berita. Yang kubisa tonton hanya acara-acara itu, yang menari-menyanyi-bercanda-teriak, aku bahkan tidak tahu konsep acara macam apa itu. Dangkal.

Maka masuk akal kalau saudaraku beli televisi buat nonton CD/DVD Islami atau edukasi. Karena menurutku fungsi utama televisi milikku adalah hiasan rumah, bahkan sepertinya televisiku itu justru lebih berguna kalau tidak menyala. Itu kusimpulkan kalau melihat acara yang dominan di televisi belakangan ini, di mana hiburan dangkal justru yang muncul di sana-sini. Adapun beberapa saluran berita di televisi malah tak bisa kunikmati gara-gara antena melengkung yang belum juga kuganti.

Beberapa kali aku coba cari acara Islami di televisi, tapi sepertinya acara semacam itu hanya muncul setahun sekali waktu bulan puasa saja. Selebihnya tak tahu ada di mana. Memang terdapat beberapa acara Islami seperti kajian atau semacamnya. Namun menurutku tetap belum memuaskan. Pertama karena acara model itu umumnya ditayangkan kelewat pagi, sekitar jam Subuh. Bapak-bapak biasanya ke masjid, ibu-ibu masak di dapur dan anak-anak kemungkinan masih tidur. Kedua, kalau ada kajian di primetime (waktu utama) seperti malam hari selepas Isya itu biasanya bukan murni acara kajian. Ustadznya cuma bicara 10 menit lalu acara musiknya 15 menit, plus ditambah iklan juga. Ketiga, ya soal iklan itu. Aneh rasanya saat menonton acara kajian di televisi dengan tema akhlak mulia seperti menjaga pandangan lalu tiba-tiba dipotong iklan sabun mandi, deodoran, handbody lotion, dan susu diet yang semuanya buka-bukaan. Kalau mau benar jaga pandangan ya matikan televisinya sekalian.

Sayangnya sampai sekarang pun aku masih saja menyalakan, walaupun sudah tidak menjadikannya sumber utama hiburan. Mekanisme tebang pilih harus tetap kulakukan, agar manfaat yang kudapat berupa kebaikan.

Namun demikian, salah tebang juga tetap jadi kemungkinan. Aku tidak tahu kenapa aku bisa tiba-tiba hafal reff beberapa lagu dangdut koplo, padahal aku tidak pernah sengaja menghafalkan. Kuduga itu akibat televisi kunyalakan. Dan tampaknya bukan cuma aku yang mengalami fenomena demikian. Banyak anak-anak SD di pagi hari saat mereka berolahraga di lapangan dekat kontrakanku ternyata punya yel-yel baru, bersama secara kompak mereka gelorakan: Buka sithik (buka dikit) ,,Joss! Apanya yang dibuka kok bisa joss? Memang gurunya bisa menjawab kalau ditanya begitu oleh anak SD?

Seorang teman guruku juga sempat mengeluh soal itu,

“Anak-anak sekarang pintar menyerap materi, sayang tidak ada yang mengarahkan materi apa yang boleh diserap. Guru bisa setiap hari berjam-jam mengajarkan anak-anak kesopanan, tapi semua percuma dengan beberapa menit mereka menonton televisi di malam hari.”

Maka beberapa hari ini kucoba amati acara di saluran televisi. Menurutku ada dua kategori acara: informasi dan hiburan. Acara informasi bisa berupa berita, dokumenter, atau bentuk lainnya. Kecuali saluran khusus berita, maka acara jenis informasi ini juga dirangkai oleh acara hiburan. Artinya kalau seseorang tidak konsisten hanya menonton saluran atau channel berita, maka mau tidak mau ia juga harus menonton acara hiburan. Acara hiburan ini bisa berupa film, sinetron, komedi, musik, talkshow, permainan, infotainment (gosip) atau bentuk lainnya.

Terkait kategori berita, kucermati berita yang ditayangkan didominasi oleh kriminal baik skala kecil seperti copet hingga korupsi, baik pemukulan hingga pembunuhan, baik pelecehan hingga perkosaan. Itu semua memberikan informasi, tapi aku kurang bisa menangkap unsur pendidikan dari hal-hal begini. Kesannya terlalu negatif kehidupan ini. Orang jahat di mana-mana dan itu menjadi berita utama. Kalau ada anak-anak atau remaja yang menonton hal-hal semacam ini setiap hari, aku khawatir mereka malah akan menganggap biasa dan mengira hal itu bisa ditoleransi. Lebih buruk, hal-hal semacam itu malah menjadi inspirasi untuk melakukan yang serupa atau sedikit dimodifikasi.

Terkait kategori hiburan, di sini aku malah lebih kebingungan lagi mencari sisa-sisa sisi edukasi. Soal infotainment, apa baiknya masuk ke privasi orang lain dengan dalih klarifikasi, padahal jelas-jelas cari sensasi. Sinetron mana yang berguna, siapapun pemainnya juga cuma pura-pura, lagipula ceritanya selalu sama: soal cinta atau rebutan harta. Khusus sinetron remaja, ini lebih mengkhawatirkan dalam segi pakaian yang digunakan seakan kurang bahan (minimalis abis), tokoh yang ditonjolkan juga yang suka melanggar aturan, dianggap keren kalau punya sifat berandalan.

Soal komedi, masih didominasi ejekan, sindiran, dan kebohongan untuk bikin orang kegirangan. Sayangnya televisi kini terlalu menonjolkan sisi hiburan yang asal membuat orang bisa banyak terpingkal, bahkan untuk soal kajian pun ustadz yang diundang seakan harus bisa membuat jama’ah tertawa sehingga kajian menjadi popular kalau ustadznya lucu.

Kucoba renungkan. Jika seseorang sedang sendiri siapa yang menemani? Jika sedang memiliki waktu senggang apa yang dilakukan? Ketika memiliki rumah, apa yang kemudian ingin dibeli untuk melengkapi? Saat menunggu antrian di tempat umum apa yang ditonoton? Semuanya selalu berhubungan dengan televisi. Tak bisa dipungkiri bahwa televisi telah menjadi teman dekat sebagian besar manusia.

“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

Begitu sekiranya kondisi pemikiran umat ini. Darimana seseorang menimba ilmu, di situlah referensi kehidupannya tertuju.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Simple things. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s