PINTU

Aku tahu suatu saat akan bermasalah dengan pintu depan kontrakanku. Namun aku tidak menduga kalau itu terjadi sekarang.

Pintu ini adalah satu-satunya akses masuk ke dalam kontrakanku. Sebenarnya ada pintu teralis di loteng untuk menuju tempat jemuran, tapi untuk masuk lewat pintu itu aku harus memanjat talang air yang usianya sepertinya lebih tua dariku, jadi itu tidak sopan. Ada juga cara masuk lain yang bisa dilakukan seperti memecahkan kaca jendela atau menggeser genteng di atap sana, tapi itu tidak normal dilakukan. Jadi fungsi pintu ini sebagai gerbang sungguh tak tergantikan.

Tanda-tanda jika pintu ini akan bermasalah jelas terlihat, ia sudah berkarat. Selain itu, gagang kunci pintu depanku ini hanya berfungsi sebelah. dari dalam pintu ini tidak bisa dikunci, sehingga aku hanya mengandalkan gerendel kecil untuk mengamankan seisi rumah kontrakanku, itu jenis pengaman yang sama yang digunakan oleh pintu WC. Mengenaskan. Pintu putih buluk ini hanya bisa dikunci dari luar, dan aku sangat rajin untuk mengunci pintu setiap pergi walaupun hanya ke warung sebelah. Bukan karena tidak percaya dengan keamanan lingkungan, tapi lebih demi menjaga kehormatan kalau ada orang iseng mengintip kondisi rumah yang super berantakan.

Tadi perutku keroncongan minta makan, kuputuskan segera melancarkan aksi tanggap darurat cari warung terdekat. Dompet, handphone, dan kunci motor lengkap maka segera aku mendatangi warung pecel pincuk minta dibungkus. Dasar orang lapar, melihat ibu penjualnya memasukkan telor mata sapi ke bungkusan dari daun pisang sudah bisa membuatku merasa begitu bahagia. Setelah selesai dibungkus lalu kubayarkan uangnya, hampir aku lupa ambil kembalian karena begitu laparnya. Pulang, tiba di depan pintu putih buluk ini otomatis tanganku memasukkan kunci untuk membukanya.

“Cekll,,” begitu bunyi kuncinya ketika kuputar ke kiri untuk membuka. Hmm,, ini aneh karena biasanya berbunyi “ceklek”. Aku coba putar lagi kuncinya. Tidak bisa!! Aku tahu suatu saat akan bermasalah dengan pintu depan kontrakanku. Namun aku tidak menduga kalau itu terjadi sekarang. Tidak di saat perutku sudah berguncang 8 skala ricther. Tidak di saat pecel pincuk dengan telor mata sapi sudah siap kulahap.

“Tidaaakk”.. begitu teriakku dalam hati, bukan, dalam perut lebih tepatnya.

“Cekll,, Cekll,, Cekll,,” Tetap tidak bisa. Kuncinya seperti berhenti di tengah sehingga penahan pintunya tidak bergeser sempurna. Jelas ini tidak mungkin dibuka. Aku sudah memikirkan di mana sekiranya aku bisa menemukan ahli kunci. Tapi tidak, tidak itu tidak boleh. Kalau aku memanggil ahli kunci dan ia berhasil membuka pintu ini, kehormatanku bisa runtuh ketika dunia melihat kondisi di dalam rumahku yang abstrak. Akhirnya kuputuskan akan tutangani sendiri pintu ini. Duel one on one.  Kuprediksi cukup satu ronde dia akan K.O. Haha.

Untuk saat seperti inilah obeng di motor harus digunakan. Kubuka baut penahan pegangan pintu itu satu demi satu hingga berhasil kulepaskan semua. Ternyata yang bisa kubuka hanya penutupnya saja. Ini baru pertama kalinya aku mengotak-atik gagang pintu dan ternyata sama sekali tidak berhubungan dengan kuncinya. Sia-sia. Benar memang duel ini cukup berakhir dalam 1 ronde, aku yang K.O.

Aku terduduk di muka pintu putih buluk ini. Sambil memasang kembali baut ke tempatnya semula, aku mulai memikirkan akan menuju masjid dekat kontrakan untuk numpang tempat buat makan. Masjid itu kan tempat untuk kemaslahatan umat, jadi kupikir aku bisa sedikit berkelit dari aturan dilarang makan di masjid. Kalau nanti takmir datang melarang, bisa kutawarkan telor mata sapi untuk melunakkan hatinya.

“Tapi itu kan melanggar aturan dan juga suap?” Kata hatiku mulai unjuk vokal.

“Ya namanya orang lapar, pikirannya cuma bisa berkelakar.” Begitu jawabku.

“Mau lapar, mau mlarat: dosa tetep dosa.” Begitu katanya. Aku mengiyakan saja, nanti kalau suara hatiku lapar biar dia sendiri yang merasakan. Ah tapi suara hati tidak pernah lapar, ia hanya bisa tiba-tiba mati suri kalau tak pernah diurusi. Begitulah anehnya suara hati, tak perlu makan tak perlu minum tapi jika sering tak didengarkan atau dituruti, dia tiba-tiba mati.

Baiklah, aku perlu ahli kunci. Biar harga diriku melorot, nanti ahli kuncinya bisa kuberi telor mata sapi supaya jaga rahasia kondisi aurat rumahku. Maka tanganku meraih pegangan pintu, kutarik ke bawah untuk membantuku berdiri. Dan tiba-tiba,, “krieet” pintu depan kontrakanku yang berwarna putih buluk ini terbuka.

“Apaaa?” begitu teriak hatiku, kali ini bukan perutku.

Aku coba putar kunci ke arah kanan “ceklek”, bisa, penahan pintunya muncul. Lalu aku putar lagi ke arah kiri, “ceklek”, penahannya masuk lagi ke dalam pintu. Lalu kuputar ke kiri sekali lagi, “cekll,,”. Ah ini dia sebabnya! sebenarnya dari tadi pintuku ini tidak terkunci! Pantas saja kuncinya tidak bisa diputar ke kiri, sudah mentok ternyata.

Aku berdiri terdiam di muka pintu yang terbuka. Tangan kiriku masih memegang obeng yang menjadi satu-satunya saksi atas peristiwa bodoh ini. Aku memandang kertas-kertas, buku-buku, plastik jajanan, botol plastik , keset, dan beberapa alat tulis yang secara abstrak berserakan di dalam sana. Mereka adalah aurat rumahku, merekalah yang tadinya menjadi alasanku kehilangan kehormatan kalau ketahuan. Kualihkan mataku ke samping, aku melihat pintu putih buluk ini, dia seakan tertawa terbahak-bahak memandangku. Aku tahu, kini semua telah berubah. Tak perlu lagi melihat ke dalam sana untuk kehilangan kehormatanku, bahkan pintu yang terpampang di depan rumahku sudah menjadi bukti aib kebodohanku.

Sepandai-pandai orang menyimpan sampah, baunya akan tercium juga. Sepandai-pandai aku menutup rumah, pintu jua yang akan bercerita. Ah manusia, mencoba menutupi aib-aib dalam dirinya walau tak pernah memperbaiki sikapnya, suatu ketika entah bagaimana semua akan terbongkar juga.

Seharusnya sejak awal aku bereskan isi rumahku, aku perbaiki pula kunci pintu rumahku. Sehingga jikapun suatu ketika pintu ini rusak, aku tak akan malu untuk meminta orang lain membantuku membukanya, karena isi rumahku bersih. Tak ada gundah gelisah menyimpan aib. Jelas sekali kondisi rumah mencerminkan peghuninya. Dan rumahku yang dalamnya berantakan menandakan akupun demikian. Banyak hal-hal buruk pada diriku yang kututupi, tapi tak juga kubereskan.

Aku tahu, bahwa kehormatan seseorang adalah semata-mata karena aibnya masih tersembunyi.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Simple things. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s