MINIMARKET

Ba’da Maghrib. Aku menyempatkan diri menuju minimarket terdekat untuk membeli “amunisi”: kue kering cokelat dan minuman sari kacang hijau. Rencananya malam ini, sehabis Isya, aku akan mulai menggarap tugas yang menguras pikiran. Karena itu wajar bila otakku perlu asupan, walaupun hatiku mengatakan itu cuma alasan pembenaran untuk jajan, aslinya perutku yang kelaparan.

Sekitar tiga menit aku terdiam di salah satu lorong minimarket itu, memandangi rak aneka kue kering.  Nafsuku menginginkan jajanan yang enak, sayang harganya melangit. Nalarku kerepotan memberi alasan kalau itu bisa bikin pailit (bangkrut). Begitu seriusnya aku memikirkan nasib perut dan dompetku yang tidak akur ini, sampai-sampai aku tidak sadar ada seorang anak kecil yang dari tadi berdiri di sampingku.

“ssdwessssdhtt”, anak kecil bergumam tidak jelas, suaranya lirih sekali untuk usia 12 an tahun. Aku bahkan tidak menduga kalau dia berbicara denganku. Pikiranku masih kusut memandang daftar harga kue kering, ah yang ini 6 ribuan tapi sedikit, yang itu murah tapi mungkin rasanya biasa saja. Hmm..

Anak kecil itu semakin mempersempit jarak denganku, kini jari kelingking kaki kami sudah bertemu. Kaki kiriku dan kaki kanannya. Jelas dia mencoba memulai interaksi. Aku menoleh memandangnya: rambut kemerahan karena terbakar matahari, badan kotor, baju lusuh, dan bersandal jepit. Pantas jari kakinya leluasa berkenalan dengan kelingkingku. Kutundukkan kepalaku kalau-kalau dia ingin bicara. Ya dia mulai membuka mulutnya,

“ssdwessssdhtt”, suaranya masih lirih, tapi kini aku tahu kalau dia berbicara denganku.

“Ha? Apa le (le adalah sapaan bahasa Jawa yang berarti anak –asal katanya adalah tole)?” Aku mengernyitkan alis dan memicingkan mata, padahal harusnya cukup kudekatkan saja telingaku padanya.

“Mmin..ta.. uang..nya Om, mau ja..jajan”. Dia bicara terbata, sepertinya malu dan takut jadi satu di hatinya. Kontan saja aku terkejut dengan kalimat anak itu. Bukan soal minta uang atau jajan, tapi karena aku dipanggil om. Mana cermin? Setua apa mukaku ini?

“Kamu ke sini sama siapa?” Ini pertanyaan awalku, memastikan dia tidak membawa rombongan teman-teman, karena jika iya berarti aku harus membelikan jajan satu rombongan. Bisa kiamat dompetku.

“Sendirian aja kok Om.” Suaranya kini tidak gagap lagi. Semakin jelas pula kalau dia memang memanggilku om. Aih, mana sih cermin?

“Rumahmu di mana?” Ini pertanyaan keduaku, Jaga-jaga kalau saja ternyata dia anaknya yang punya minimarket ini. Bisa jadi semacam persengkokolan orangtua dan anak. Skenarionya begini: anaknya minta dibelikan jajan supaya aku beli lebih dan membayar uangnya, lalu anak itu mengembalikan jajanannya ke tempat semula. Artinya aku membayar sesuatu yang tidak dibeli. Haha, aku tidak sebodoh itu.

“Di sana Om.” Sambil menunjuk ke arah luar. Arah jalan besar Pekalongan-Jakarta. Entah di mana tepatnya, biarlah. Lagi pula pikiran curigaku tadi terlalu berlebihan. Buruk sangka level lima. Aku memang mau membelikannya jajan, kuluruskan niatku. Mataku melacak ke penjuru minimarket, mencoba memastikan berapa harga paling mahal untuk sebuah jajanan. Apa kata dunia kalau aku tawarkan dia jajan eh ternyata duitnya kurang. Gengsi dong sama anak kecil.

“Mau yang mana le? Ambil aja.”

“Sosis yang itu”. Dia menunjuk sosis dalam kemasan, harganya enam ribu. Wah pintar juga dia pilih yang mahal.

“Dua ya Om.” Dia mengambil satu lagi setelah kuambilkan satu bungkus. Ralat: dia tidak pintar. Dia jenius mengambil kesempatan. Baiklah.

Sebenarnya sempat terpikir olehku kalau ini profesi mengemis jenis baru bagi anak-anak. Namun aku lebih suka memberikan jajan kepada anak-anak daripada uang tunai yang entah nantinya buat apa. Maksudku, hal negatif apa yang bisa dilakukan anak 12 tahun dengan dua bungkus sosis? Juga setelah kufikir lagi sepertinya aku kagum dengan anak ini. Dia berani mengutarakan keinginannya, dan satu hal yang paling penting: dia jujur. Anak ini bisa saja mengambil, mengutil, mencuri dan kabur. Dia tidak lakukan, sehingga ini perlu diapresiasi. Justru aku khawatir kalau tidak kubelikan, mungkin terbersit dalam pikirannya untuk mencuri.

Pikiranku bahwa anak itu akan mencuri jika tidak kubelikan jajan mungkin terlalu berlebihan, tapi semoga pemberianku tidak membuatnya menjadi peminta-minta profesional. Semoga pemberianku bermanfaat dalam RidhoNya.

Aduh lupa, sosisnya belum dibayar. Gara-gara khayalan tingkat tinggi.

Aku mengajaknya ke kasir, kubayarkan nominal jajan yang ia ambil. Setelah mengucapkan terima kasih, ia pergi. Aku yang seharusnya berterima kasih. Anak kecil itu mengajariku untuk memberi dengan mudah, tak perlu risau dan banyak pikir. Berikan saja se bagaimana dibutuhkan, titik.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Simple things. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s