KAMAR

Kasur di kamar kontrakanku ini sepertinya tidak layak menyandang predikat tempat tidur. Bentuknya lebih mirip keset yang disangga kardus di bawahnya. Agak berisi tapi keras. Aku lupa sudah berapa tahun lamanya kasur ini tidak lagi diganti kapuknya. Membuat kasurku tampak peyot, kempet, dan keriput. Perlu dibedah total dan dimasukkan kapuk-kapuk baru agar terlihat lebih berisi. Ternyata bukan cuma artis-artis Amerika dan Korea yang bisa melakukan operasi macam itu, kasurku juga perlu. Bedanya kalau kasurku dioperasi secara alami dengan kapuk, sementara artis-artis itu malah memilih pakai plastik.

Riset sudah membuktikan, bahwa plastik mengandung bahan kimia rakitan yang berbahaya bagi kesehatan, sementara kapuk jauh lebih alami dan natural. Bukankah segala sesuatu yang alami pasti menarik perhatian? Lihat saja orang-orang, daripada memandangi gedung yang dibuat manusia, lebih asyik pergi ke gunung atau pantai yang alami. Tapi sebagian wanita malah terbalik: tidak merasa puas dengan yang alami. Sudah aslinya dapat kulit gelap eksotis, malah ingin seputih sapi. Bagian muka juga diubek-ubek pakai operasi plastik segala. Perlu diketahui kalau plastik itu tidak alami, tidak ramah lingkungan. Apalagi operasinya cari yang tanpa modal pakai plastik kresek. Lagipula plastik itu tidak bisa diolah dan diuraikan oleh tanah, padahal jasad itu tempatnya di tanah. Bagaimana nanti kalau mati malah tidak diterima bumi? Sudahlah, sekarang jamannya go green (cinta lingkungan), yang alami lebih banyak dicari.

Balik soal kasurku. Sebenarnya aku tidak cuma pake satu kasur. Di bawah kasur kapuk itu aku selipkan juga kasur busa. Namun dasar kasur tua yang satu kohort (jenjang usia), nasib mereka juga tak jauh beda. Si busa yang juga renta bahkan semakin sengsara karena ia selain menopang si kapuk juga berhadapan langsung dengan dinginnya lantai. Tak heran jamur-jamur berkumpul di bagian bawahnya. Ini gara-gara kondisi kamarku yang lembab, tidak ada jendela, cuma tersedia sebuah genting kaca. Hmm, sebuah kamar yang terisolasi dengan dunia luar bisa begitu pengap, lembab, dan dingin. Bagaimana pula dengan hati dan jiwa manusia yang selalu menyendiri dalam sepi?

Dulu genting kaca di atap kamarku ini adalah bagian favoritku, sambil tiduran aku bisa memandang awan di sore hari dan bintang di malam hari. Bahkan aku sempat berpikir bagaimana kalau genting kamarku kuganti kaca semua. Ternyata pikiranku langsung berubah keesokan harinya, saat aku bangun menatap genting kaca dengan beberapa kotoran tikus dan burung di sana. Sayangnya diriku termasuk pengidap acrophobia (ketakutan/fobia pada ketinggian) kronis sehingga berencana untuk naik ke atas genting dan membersihkan semua kotoran itu merupakan hal gila. Sungguh aku sebenarnya tidak takut akan ketinggian, aku hanya takut jatuhnya saja.

Mungkin itu juga sebabnya dulu aku berfikir akan sulit sukses, karena hampir semua seminar motivasi yang kuikuti selalu menyuruh pesertanya untuk menetapkan impian yang tinggi, sangat tinggi bahkan. Justru, untuk orang-orang dengan acrophobia sepertiku, meletakkan impian di tempat tinggi sama artinya dengan merelakan impian itu. Maksudku, naik ke genting saja aku tidak mampu apalagi meraih bintang di langit. Namun sekarang aku tahu kalau sukses tidak harus selalu berada di tempat tinggi, ketika seseorang mau peduli dan berbagi pada yang di bawah untuk mengangkatnya ke atas, itu juga kesuksesan. Mungkin istilahku: memberikan sayap kepada mereka yang berani terbang, dan menunjukkan arah kepada mereka yang bersayap.

Soal naik ke genting dan membersihkan kotoran itu juga sudah tidak kurisaukan lagi, ternyata beberapa hari setelahnya hujan pun turun dan mencuci genting kaca itu. Bersih. Setelah itu kembali kubisa menikmati awan sore dan bintang malam dari atas kasur peyotku. Dari dulu bersih dan kotor selalu berbeda, dan hingga kapan pun tak akan pernah sama. Kenikmatanku memandang langit melalui genting kaca itu tak bisa lepas dari syarat bersih. Kebersihan pandangan dari hal-hal kotor itulah yang membuat senangnya hati. Itu juga sepertinya yang sering membuat diriku gelisah, karena kuyakin pandanganku terhadap sesama manusia tidak bersih. Ada iri dan dengki di sana-sini kepada saudara dan teman sendiri, cuma gara-gara beda jatah rezeki. Sering kali aku iri dengan temanku saat makan bareng kalau menu yang kami pesan sama, ayam goreng misalnya, eh punya dia lebih besar bagiannya. Ingin rasanya kutukar saja, suasana kebersamaan malah jadi persaingan. Aku ingin buktikan walaupun ayam gorengku lebih kecil, tapi habisnya lebih lama. Lomba apa pula yang macam begini?!

Hal lain yang kucermati soal kamarku ini adalah luasnya yang segitu saja, cuma berukuran 3 langkah x 3 langkah kakiku. Itu yang membuat kalau ada satu kecoak saja yang masuk bisa heboh. Aku yang heboh, kecoaknya sih cuma diam di sudut ruangan. Aku tidak takut kecoak, hanya risih. Aku bisa memukulnya sampai mati, tapi tidak pernah sampai hati. Dan konyolnya kecoak adalah jika aku menghentakkan kaki untuk menakuti, dia malah datang menghampiri. Kami memang tidak pernah bisa saling mengerti. Untuk perkara heboh semacam ini aku menyalahkan sempitnya kamarku. Kalau saja kamarku seluas lapangan sepak bola, jangankan kecoak, andaipun sapi masuk juga tidak masalah kami tidur bersama.

Karena itu aku menduga penemu konsep lapang dada waktu pelajaran kewarganegaraan jamanku SD dulu juga punya masalah kamar sempit dengan kecoak di dalamnya, persis seperti diriku. Kalau dada (yang maksudnya adalah hati, pemikiran dan perasaan) seseorang sempit maka kena masalah kecil saja sudah begitu hebohnya. Beda dengan orang yang punya dada lapang dan berpikiran luas, bahkan ketika banyak masalah pun selalu masih punya ruang untuk menenangkan diri. Sepertinya sebuah usaha untuk melapangkan dada merupakan hal yang berharga. Hanya saja aku belum punya banyak ilmu tentangnya.

Tapi kamar ini cukup mengajariku beberapa hal. Terima kasih.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Simple things. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s