Memahami Anak

Persepsi orang tua yang salah terhadap anak akan menuntun kepada perilaku pengasuhan yang kontraproduktif. Memahami hakikat anak diperlukan sebagai landasan pijak orang tua dalam bersikap.

Tindak kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anak semakin sering terjadi, hal tersebut menunjukkan hilangnya kasih sayang orang tua terhadap buah hatinya. Di sisi lain, banyak pula orang tua yang membanggakan hasil kerja kerasnya dalam mendidik anak, seolah mereka satu-satunya yang berjasa. Apakah memang demikian kodrat anak di hadapan orang tuanya?

Ada beberapa hal yang hendaknya diingat oleh orang tua dalam memahami kodrat anak:

1.  Anak adalah amanah

Tidak ada pasangan suami-istri  yang mampu menciptakan anak. Bahkan untuk menumbuhkan sehalai rambut pun mereka tidak mampu. Sejatinya segala yang ada pada diri manusia adalah titipan Allah sang Maha Pencipta, termasuk pula anak. Orang tua seyogyanya memegang amanah Penitipnya dengan cara memahami apa yang diminta olehNya. Anak sebagai titipan mengandung konsekuensi bahwa orang tua tidak berhak berlaku sewenang-wenang padanya, demikian pula orang tua tidak berhak mengagungkannya.

2.  Anak adalah investasi amal

Berapapun biaya untuk mendidik anak menjadi shaleh bukanlah suatu pengeluaran, melainkan modal akhirat bagi orang tuanya. Membayangkan betapa do’a anak kepada orang tuanya menjadi salah satu amal jariyah yang tak akan pernah terputus, dan bagaimana anak-anak akan melayani orang tuanya di hari tua merupakan pelecut semangat orang tua untuk memberikan yang terbaik. Jika anak merupakan lumbung kekayaan pahala bagi orang tua maka tak ada alasan untuk memberi sisa, seperti sisa waktu dan perhatian karena disibukkan oleh pekerjaan.

3.  Anak adalah ujian ketakwaan

Bagaimanapun kondisi anak, sesungguhnya itu adalah ujian bagi orang tua. Anak yang sukses adalah cobaan bagi orang tua untuk menahan diri dari sifat tinggi hati, sombong, dan takabur. Kesuksesan anak merupakan karunia Allah semata. Demikian pula sebaliknya, bahwa kegagalan sang anak adalah kehendak Allah pula, sehingga orang tua hendaknya memberi dukungan dan bukan menyalahkan. Sebagian ujian orang tua adalah terlena dengan kehadiran anak. Kecintaan yang bercampur nafsu mengakibatkan orang tua secara berlebihan berusaha memenuhi keinginan anak walaupun melanggar aturan, takut menyakiti hati anak dengan nasehat-nasehat walaupun itu memang diperlukan. Anak justru menjadi majikan bagi orangtuanya. Seolah-olah anak adalah segala-galanya bagi orangtua. Hendaknya diingat bahwa Allah segalanya, anak merupakan media orangtua mematuhi perintah Allah.

4.  Anak adalah manusia merdeka

Sebagian orang tua memaksakan kehendaknya kepada anak, menganggap anak sebagai penerus obsesi orangtua yang belum tercapai. Ibaratnya, orang tua mendesak anak menjadi api walaupun sejatinya berjiwa air. Alangkah baiknya bila diingat bahwa setiap anak adalah unik, tak perlu dibandingkan dengan saudaranya, apalagi dengan anak tetangga. Berikan keluasan bagi anak untuk menentukan kebermaknaan hidupnya sebagai manusia merdeka. Nasfu dan keinginan orang tua belum tentu yang terbaik menurut Allah, cukupi  kewajiban orangtua dan tidak memaksa ketika memberikan masukan. Gunakan komunikasi yang baik dengan sikap yang tenang.

Semoga setiap orang tua memiliki keikhlasan dalam mendampingi perjalanan hidup buah hatinya, dengan balasan  di dunia dan terutama di akhirat. Allah mengetahui segala yang dikerjakan hambaNya.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Parenting. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s