Hanya yang Bermanfaat

Jika Anda memiliki terlalu banyak hal yang tidak benar-benar dibutuhkan, hidup Anda pasti akan rumit. Pasti. Bagaikan penjahit yang mencari jarum di tumpukan jerami. Sang penjahit tidak butuh jeraminya, ia butuh jarumnya. Jika ia menyimpan jerami bersama-sama dengan jarum, maka akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mendapatkan yang ia butuhkan. Menyimpan segala sesuatu yang tidak dibutuhkan termasuk dalam tindakan berlebihan. Perhatikan peringatan Rasulullah,

Dari ibnu mas’ud ra, ia berkata Nabi saw bersabda;”Binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebih-lebihan”, beliau mengulanginya sebanyak tiga kali (HR. Muslim).

Hidup itu akan rumit bila kita banyak menyimpan hal – hal yang tidak jelas fungsinya. Menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak jelas manfaatnya. Memenuhi memori dengan ingatan-ingatan tak berguna. Setiap orang memiliki jatah waktu yang sama. 24 jam sehari. Dalam waktu yang sama ada mereka yang bisa berkarya dan bermanfaat untuk masyarakat, tetapi ada saja yang mengeluh kekurangan waktu. Kita tidak bisa melakukan manajemen waktu, kita tidak bisa mengatur waktu. Waktu akan tetap seperti itu adanya. Namun kita bisa melakukan manajemen diri, kita bisa mengatur diri untuk memanfaatkan waktu yang ada, dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang penting saja. Kegiatan yang penting adalah kegiatan yang jelas tujuannya, dan memberikan hasil yang nyata. Apakah tidur penting? Ya, jika kita memiliki tujuan untuk memulihkan tenaga agar mampu kembali berkarya. Artinya, kegiatan akan menjadi penting jika niatnya benar. Semua kegiatan yang tidak jelas niatnya akan sia-sia.

“Sesungguhnya sahnya amal itu niat, dan sesungguhnya bagi tiap orang menurut apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, hidup itu akan rumit jika kita memiliki terlalu banyak hal yang tidak kita butuhkan. Hidup akan rumit jika kita terlalu banyak berpikir dan khawatir tentang apa yang akan terjadi, padahal takdir Allah lebih pasti. Hidup akan rumit jika kita menumpuk harta yang tiada berguna. Sungguh, jika banyaknya harta menjadi indikator kemuliaan maka tak ada makhluk yang lebih baik dari Qarun. Tapi dunia menguburnya dalam hina. Muslim tidak harus kaya, muslim harus berusaha. Hidup akan rumit jika terlalu banyak berangan tanpa tindakan. Hidup akan rumit jika terpaku pada jabatan. . Sungguh, jika besarnya kuasa menjadi indikator kemuliaan maka tak ada makhluk yang lebih baik dari Fir’arun. Tapi laut menelannya dalam hina.

Hidup yang damai adalah hidup yang mudah, hidup yang sederhana. Sederhana bukanlah kondisi hidup, sederhana adalah cara hidup. Manusia bisa saja dalam kondisi kaya atau tanpa harta, dalam kondisi berkuasa atau jelata. Namun mereka dapat hidup sederhana dengan bertindak hanya yang bermanfaat. Orang sederhana berpatokan kepada kebutuhan dan bukan keinginan. Menuruti nafsu keinginan akan cenderung hidup secara berlebihan. Orang sederhana berpatokan pada kecukupan dan bukan berlebihan. Untuk apa punya banyak nasi tapi tak dinikmati? Akhirnya hanya akan menjadi basi.

Saya terkesan dengan cara sahabat Rasulullah dalam menjalani kehidupannya, ia adalah Abu Darda’. Ia senantiasa menjadikan firman Allah sebagai pegangan hidupnya,

“Yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung. Ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya” (Q.S. Al-Humazah: 2-3)

Juga nasehat Rasulullah yang ia ingat, “Yang sedikit mencukupi, lebih baik daripada yang banyak melenakan”. Oleh karena itu, Abu Darda’ pernah berdoa “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari hati yang tercerai-berai.” Ketika ditanya, “Apa yang dimaksud dengan hati yang tercerai-berai, wahai Abu Darda’?” Maka ia menjawab, “Memiliki harta benda di setiap lembah.” Lanjutnya, “Barangsiapa yang tidak pernah merasa puas terhadap dunia, maka tak ada dunia baginya.”

Pernah suatu kali Abu Darda’ menulis surat kepada temannya, isi surat itu antara lain adalah, “Tidak satu pun harta kekayaan dunia yang kamu miliki, melainkan sudah ada orang lain yang memilikinya sebelum kamu, dan akan ada orang lain yang memilikinya sebelum kamu, dan akan ada orang lain yang memilikinya sesudah kamu. Sebenarnya, harta kekayaan dunia yang kamu miliki hanyalah yang telah kamu manfaatkan untuk dirimu.”

Perhatikan bagaimana pesan bijak Abu Darda’, tidak ada gunanya menyimpan segala sesuatu apalagi menimbunnya. Segala hal yang yang tidak bermanfaat hanya akan membuat hidup menjadi rumit. Apapun itu, baik berupa harta, pikiran, sangkaan, ingatan, kegiatan dan hal lain. Hidup sederhana dengan ijin Allah akan lebih bahagia, mudah dan berkah, maka pastikan hanya yang bermanfaat.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s