Hidup Tidak Datar

Saya teringat dengan nasehat guru saya suatu kali. Inti perkataan beliau adalah jangan lengah saat sedang berada di puncak karier. Kehidupan manusia bagaikan buah kelapa. Butuh waktu lama sampai pohon kelapa tumbuh tinggi dan berbuah. Namun tidak selamanya kelapa berada di kedudukan yang tinggi, karena pada suatu waktu angin akan meniupnya hingga ia jatuh. Setelah jatuh, kelapa akan direnggut tangan-tangan manusia. Mereka merontokkan serabut kelapa dengan kasar, setelah gundul bukannya dibelai, justru batoknya dibelah. Tidak berhenti di situ, isinya disisik lalu diparut. Masih pula diperas dengan keras. Namun setelah itu, terlihatlah sari kelapa yang murni. Demikian bahwa manusia akan menjadi bijak untuk mengetahui hakikat kehidupan setelah ia mengalami rendah tingginya kedudukan, jatuh bangunnya perjuangan, dan pahit manisnya pencapaian.

Kehidupan dibangun dari rangkaian episode-episode yang kita jalani. Menariknya film adalah karena adanya konflik, karena tangguhnya sang jagoan, dan karena filmnya berwarna. Anda bisa lihat ke sekitar, apabila suka ria adalah matahari dan duka cita adalah hujan, maka kita membutuhkan keduanya untuk dapat melihat keindahan pelangi kehidupan. Bagaikan dua sisi mata uang, pahit manisnya kehidupan tak bisa dihilangkan salah satu, karena nanti uangnya menjadi tidak laku.

Anda bisa hitung berapa kali Anda merasa seolah habislah harapan Anda karena terjerat masalah yang begitu pelik, namun akhirnya Anda tetap bernapas dan ada hingga kini. Anda juga bisa hitung berapa kali Anda membuka mata saat bangun pagi dengan harapan yang membahana, perasaan positif luar biasa namun harus menutup mata dengan gundah gulana karena hal buruk yang menimpa. Hidup tidak datar, itulah alasan kita menikmati kehidupan. What doesn’t kill you, make you stronger.

Saya ingat kisah seorang teman saya saat pertama kali kami berkuliah. Teman saya sepertinya tidak memiliki cukup uang untuk membiayai kuliah. Namun baginya, hidup ya jalani saja. Ia tidur di masjid kampus untuk beberapa hari pertama, kemudian menumpang di kos salah satu temannya. Bahkan hingga batas akhir pembayaran biaya kuliah semester pertama, ia tidak berkecukupan untuk membayar. Batas pembayaran pun terlewat. Saat kejelasan statusnya sebagai mahasiswa di universitas tersebut goyah, tibalah pengumuman itu. Pemberitahuan bahwa ia diterima di sekolah tinggi kedinasan milik pemerintah yang gratis sepenuhnya. Teman saya bagaikan “melewati jurang untuk mencapai bukit”. Ia tahu bahwa sesudah kesulian selalu ada kemudahan.

Hidup itu naik dan turun, sehingga akhir jalan kehidupan kita bisa saat berada di atas atau di bawah. Itu bukanlah masalah, karena memang demikian perjalanan hidup. Kita bisa belajar dari kisah perjalanan hidup sahabat Rasulullah, yaitu Mush’ab bin Umair. Sebelum keislamannya, ia adalah warga Mekah yang memiliki nama paling harum. Lahir sebagai anak yang serba kecukupan, bahkan kemewahan membuatnya menjadi manja dan dipuja. Belum lagi ketampanan wajahnya yang menjadi buah bibir gadis-gadis di kota.

Atas hidayah Allah melalui dakwah rasulullah, Mush’ab memeluk Islam. Tantangan terberat Mush’ab adalah ibundanya sendiri, Khunas binti Malik. Mush’ab sempat dikurung oleh ibunya di tempat terpencil di rumahnya. Sejak itu, hilanglah kemewahan hidup yang dulu selalu ada padanya. Mush’ab kini mengenakan jubah usang yang bertambal-tambal, sehari makan dan beberapa hari menanggung lapar. Ibunya menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan padanya, ia tak sudi nasinya dimakan oleh orang yang telah mengingkari berhala walaupun anak kandungnya sendiri. Dalam aqidahnya, Mush’ab berpisah dengan ibunya.

Kehidupan baru Mush’ab bin Umair sebagai kaum miskin dibawa hingga perang Uhud. Mari kita simak penuturan ayah dari Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari yang menyaksikan kiprah Mush’ab di medan Uhud yang ganas.

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera (muslim) di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, lalu menebas tangannya  hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan: ‘Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya  ke  dada sambil mengucaphan:  ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul’. Lalu orang berkuda itu  menyerangnya  ketiga kali dengan tombak,  dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh.”

Mush’ab bin Umair, seorang pemuda yang hidup bergelimangan dunia, sebagai primadona para wanita, bermandikan harta dan pakaian istimewa meninggalkan ketinggian kedudukannya di mata manusia untuk hidup rendah bernaung dalam ridha-Nya. Akhir hayatnya pun tak dapat dibayangkan jika menilik masa lalunya sebagai pemilik kesenangan dunia. Berkata Khabbah ibnul ‘Urrat,

“Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara hami ada yang telah berlalu sebelum menikmati’ pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah delagan rumput idzkhir!”

Kehidupan akan tetap demikian, apa yang tampak pada awalnya tak selalu menggambarkan akhirnya. Satu-satunya cara adalah menjalaninya sebaik yang kita bisa dengan selalu memohon petunjuk kepadaNya. Semoga dalamnya jurang dan tingginya bukit akan mengantarkan kita kepada taman keindahan yang abadi seperti janjiNya.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s