Titik Nol

Manusia berbangga dengan apa yang mereka punya, menengadah ke atas seakan menjadi penguasa dunia. Berbuat semaunya, mereka berjingkrak berpesta bagaikan akan hidup selamanya. Kata-kata makian, pandangan merendahkan menjadi kelakuan harian. Aurat yang diumbar, syahwat yang jadi komoditas pasar, dunia ini selalu membuat manusia lapar. Bahkan mereka bangga dengan semua itu. Mereka bangga dengan tubuhnya yang akan menua, mereka bangga dengan hartanya yang hanya disimpan saja, mereka bangga dengan nama besar yang sekedar akan terpatri pada batu nisan. “Hidup hanya satu kali maka puaskanlah nafsumu”, itu yang selalu mereka suarakan.

Manusia seringkali merasa dirinya hebat. Mengakui segala keberhasilan mutlak karena usahanya. Tanpa sedikitpun melibatkan Tuhan dalam pencapaian dunia yang mereka anggap sebagai sebuah kesuksesan. Sungguh kebanyakan manusia telah melampaui batas. Mereka beragama, mereka tahu adanya Sang Pencipta, namun mereka tak mau tahu adanya hari setelah dunia. Sebagian manusia sombong luar biasa.

Sudah lupakah manusia cara meneteskan air mata karena begitu takutnya akan dosa. Apa gerangan yang mampu membuat manusia tenang? Sementara malaikat selalu mencatat maksiat, belum tentu ibadah diterima. Maksiat selalu tercatat sebagai dosa, sementara amalan kita belum tentu menjadi pahala. Dan manusia masih bisa berjingkrak berpesta menikmati dunia. Tidakkah kita perhatikan peringatan Rasulullah,

Dari abu hurairah ra, ia berkata sesungguhnya Rasulullah saw bersabda; “neraka itu tertutup dengan berbagai macam kesenangan, dan surga itu tertutup dengan berbagi macam ketidak senangan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bagaimana jika kesenangan hidup akan mengantarkan kita ke neraka? Ke sebuah tempat yang tak sebanding dengan semua kenikmatan dunia.

Dari Nabi saw., beliau bersabda: “Allah berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya: ‘Seandainya kamu mempunyai dunia serta isinya, apakah kamu akan menebus dengan semua itu?’ Orang itu menjawab: ‘Ya’. Allah berfirman: ‘Aku telah meminta darimu yang lebih ringan daripada ini ketika kamu masih berada di tulang punggung Adam, yaitu agar kamu tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu (aku kira beliau juga bersabda) dan Aku tidak akan memasukkanmu ke neraka. Tetapi kemudian kamu enggan dan tetap menyekutukan-Ku” (HR. Muslim).

Siapa sekutu bagiNya? Mereka adalah perhiasan-perhiasan dunia yang melenakan. Segala sesuatu yang menghalangi manusia untuk menunaikan kewajiban-kewajiban kepadaNya. Mereka meninggalkan shalat karena rapat, mengakhirkan panggilanNya karena diminta bos untuk menghadap. Mereka menganggap tak perlu semua ritual itu -shalat, puasa, zakat, haji- selama hati ini tetap baik kepada sesama. Mereka lupa bahwa hati terbolak-balik, berpedoman hanya semata pada hati akan berpotensi tersesat. Keburukan bisa disangka kebaikan. Wahai Dzat pembolak-balik hati, tetapkanlah hati kami dalam ketaatan padaMu.

Sebagian manusia berpesan ”janganlah engkau menyesali keputusanmu!”. Sungguh , saya berkata sebaliknya, “Menyesal lah karena engkau tak tahu seberapa dekat perbuatanmu dengan api neraka!”. Betapa lemahnya manusia. Mereka giat beribadah, tanpa sadar penyakit riya masuk ke dalam hatinya. Mereka berusaha keras tanpa sadar kesombongan datang beriringan dengan hasil capaian mereka. Mereka memohon ampun hari ini untuk mengulangi kembali kesalahan pada esok harinya. Jika tak ada penyesalan, bagaimana manusia bisa kembali padaNya? Dalam taubat yang sebenar-benarnya.

Taubat berarti menyesali perbuatan salah, berhenti melakukannya, dan menggantinya dengan kebaikan. Dengan bertaubat, manusia kembali pada titik nol. Bersih dari kesalahan-kesalahannya selama itu bukan syirik, menyekutukan Allah.

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal” (Q.S.Muhammad: 19)

Rasulullah s.a.w. bersabda:”Niscayalah Allah itu lebih gembira dengan taubat hambaNya daripada gembiranya seseorang dari engkau semua yang jatuh di atas untanya dan oleh Allah ia disesatkan di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mungkin kita merasa apakah Allah akan mengampuni dosa kita yang begitu banyaknya? Namun memang demikianlah adanya.

Dari Anas bin Malik ra berkata,”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman,’Wahai anak Adam, selama kamu berdoa dan berharap kepada- Ku, maka Aku mengampuni dosa-dosa lampaumu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, meski dosamu sepenuh langit, namun bila kamu meminta ampun kepada-Ku, pastilah Ku ampuni dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, meski kamu datang kepada Ku dengan dosa sepenuh bumi namun bila kamu menemui-Ku tanpa syirik kepada-Ku, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh itu juga.” (HR. At-Tirmizy).

Mari kita renungkan kisah berikut ini,

Dari Abu Said, iaitu Sa’ad bin Sinan al-Khudri r.a. bahawasanya Nabiullah s.a.w. bersabda:

“Ada seorang lelaki dari golongan ummat yang sebelummu telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, kemudian ia menanyakan tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, ialu ia ditunjukkan pada seorang pendeta. la pun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahawa sesungguhnya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan manusia, apakah masih diterima untuk bertaubat. Pendeta itu menjawab: “Tidak dapat.” Kemudian pendeta itu dibunuhnya sekali dan dengan demikian ia telah menyempurnakan jumlah seratus dengan ditambah seorang lagi itu. Lalu ia bertanya lagi tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, kemudian ditunjukkan pada seorang yang alim, selanjutnya ia mengatakan bahawa sesungguhnya ia telah membunuh seratus manusia, apakah masih diterima taubatnya. Orang alim itu menjawab: “Ya, masih dapat. Siapa yang dapat menghalang-halangi antara dirinya dengan taubat itu. Pergilah engkau ke tanah begini- begini, sebab di situ ada beberapa kelompok manusia yang sama menyembah Allah Ta’ala, maka menyembahlah engkau kepada Allah itu bersama-sama dengan mereka dan janganlah engkau kembali ke tanahmu sendiri, sebab tanahmu adalah negeri yang buruk.” Orang itu terus pergi sehingga di waktu ia telah sampai separuh perjalanan, tiba-tiba ia didatangi oleh kematian.

Kemudian bertengkarlah untuk mempersoalkan diri orang tadi malaikat kerahmatan dan malaikat siksaan – yakni yang bertugas memberikan kerahmatan dan bertugas memberikan siksa, malaikat kerahmatan berkata: “Orang ini telah datang untuk bertaubat sambil menghadapkan hatinya kepada Allah Ta’ala.” Malaikat siksaan berkata: “Bahawasanya orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.”

Selanjutnya ada seorang malaikat yang mendatangi mereka dalam bentuk seorang manusia, lalu ia dijadikan sebagai pemisah antara malaikat-malaikat yang berselisih tadi, yakni dijadikan hakim pemutusnya – untuk menetapkan mana yang benar. Ia berkata: “Ukurlah olehmu semua antara dua tempat di bumi itu, ke mana ia lebih dekat letaknya, maka orang ini adalah untuknya – maksudnya jikalau lebih dekat ke arah bumi yang dituju untuk melaksanakan taubatnya, maka ia adalah milik malaikat kerahmatan dan jikalau lebih dekat dengan bumi asalnya maka ia adalah milik malaikat siksaan.” Malaikat-malaikat itu mengukur, kemudian didapatinya bahawa orang tersebut adalah lebih dekat kepada bumi yang dikehendaki -yakni yang dituju untuk melaksanakan taubatnya. Oleh sebab itu maka ia dijemputlah oleh malaikat kerahmatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mungkin kita bertanya apakah Allah akan mengampuni dosa yang berulang-ulang kita lakukan? Sekalipun pada saat bertaubat kita berjanji sungguh-sungguh tak melakukannya lagi, namun dosa itu kembali terulang.

Dari abu hurairah ra  dari Nabi saw  dalam menceritakan wahyu yang diterimanya dari Tuhannya yang maha pemberi berkah lagi maha luhur, beliau bersabda; “Seorang hamba berdosa, kemudia ia berdoa; ‘Ya Allah ampunilah dosaku’, ; maka Allah yang maha pemberi berkah lagi maha luhur berfirman ‘Hamba-Ku berbuat dosa kemudian ia mengetahui bahwa ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya’ ,

kemudian ia melakukan dosa lagi dan berdoa; ‘ya Tuhanku ampunilah dosaku’; maka Allah yang maha pemberi berkah dan maha luhur berfirman; ‘HambaKu berbuat dosa kemudia ia mengetahui bahwa ia mempunya Ttuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya’;

kemudian ia melakukan dosa lagi dan berdoa; ‘ya Tuhanku ampunilah dosaku’, maka Allah yang maha pemberi berkah lagi maha luhur berfirman; ‘Hamba-Ku berbuat dosa kemudia ia mengetahui, bahwa ia mempunya Tuhan yang mengampuni dosa dan akan menuntut dosanya, Aku benar-benar memberi ampunan kepada Hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat menurut apa yang dikehendakinya’ (Hr Bukhari dan muslim).

Apa lagi yang menghalangi kita untuk kembali ke titik nol dengan bertaubat kepadaNya. Entah hingga kapan napas masih berhembus, entah sampai kapan jiwa ini menemani raga.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s