Write Down Your Mind

Tuliskan pikiranmu. Pikiran kita sangat liar, lebih liar dari burung tanpa sangkar. Anda perlu tahu bahwa sub bab “write down your mind” yang sedang Anda baca sekarang ini saya tulis secara spontan, tanpa rencana. Saya merasa cukup kesal karena saya sempat mendapat inspirasi luar biasa mengenai alur berfikir yang akan saya tuangkan dalam buku ini, namun semua itu menguap hilang dari pikiran saya. Hanya karena saya lupa mencatatnya.

Sungguh bijak pepatah yang mengatakan “ikatlah ilmu dengan tulisan”. Setiap kali Anda mendapatkan insight, ilham, ide atau pencerahkan segeralah tuliskan semuanya. Jika Anda tidak membawa buku ide Anda, tuliskan saja di manapun Anda bisa untuk kemudian disalin dengan rapi di buku ide.

Ya, buku ide. Buku yang berisi segala letupan pikiran Anda. Saya sarankan Anda memilikinya. Karena jika saat itu Anda merasa ide yang muncul masih “liar” dan tidak tahu cara mengolahnya, biarkan saja tertulis di buku ide. Ketidaktahuan Anda dalam mengolah ide bisa jadi karena saat itu sumber daya Anda belum cukup. Bukalah buku ide Anda bulan depan, setelah Anda menyerap informasi dan pengetahuan lebih banyak maka Anda akan melihat beberapa ide yang seakan konyol beberapa waktu lalu menjadi ide yang sangat brilian saat ini. Karena Anda sudah memiliki sumber daya yang cukup untuk mengolahnya.

Beberapa waktu lalu saat saya selalu saja ditanya oleh (hampir) semua orang, “bagaimana progres skripsimu?” muncul satu tanda tanya dalam pikiran saya, “apakah yang butuh progres untuk menjadi lebih sempurna hanya skripsi? Bagaimana dengan si pembuat skripsi sendiri? Tentulah manusia juga harus memiliki progres dalam kehidupannya.”Kemudian saya catat di notebook saya, “membuat konsep manusia progresif”. Saat itu saya benar-benar kosong untuk mengembangkan konsep tersebut, hingga catatan itu terbengkalai beberapa bulan lamanya. Namun kini, Anda sudah dapat menikmati sedikit progres dari tulisan saya yang berawal dari ide konyol itu.

Ada sebuah kisah menarik yang ironis mengenai pentingnya tulisan. Tahun 1799 ketika berperang di Timur Tengah, Napoleon Bonaparte hendak melepaskan 1200 tentara Turki yang ditawan oleh Perancis. Napoleon yang sedang menginspeksi tawanan saat itu terserang batuk sehingga ia mengatakan “Ma sacre toux” (batuk sialan). Perwira Napoleon mengira bahwa pemimpinnya mengatakan “Massacrez Tous” (bunuh semua). Akibatnya 1200 tawanan Turki dibunuh. Andai saja Napoleon menuliskan kata-katanya tentu tak ada salah paham yang begitu mengerikan.

Tulisan juga bisa menjadi warisan yang sangat berharga untuk generasi mendatang. Perhatikan bagaimana rancangan pesawat terbang milik Leonardo Da Vinci berhasil diaplikasikan oleh Wright bersaudara, atau yang jauh lebih berharga daripada itu, yaitu penulisan Al-Qur’an.

Di perang Yamamah banyak penghapal Qur’an yang gugur sebagai syahid. Umar bin Khattab meminta khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an sebelum seluruh penghapal Qur’an gugur di medan perang. Kemudian Zaid bin Tsabit diutus mengemban amanah maha agung dan berat tersebut. Ayat demi ayat ia himpun dari para penghapal dan penulis Qur’an dan menyusun lembar demi lembar dengan begitu teliti dan hati-hati. Hingga selesailah tugas itu pada masa khalifah Utsman bin Affan. Kini kita dapat dengan mudah membacanya, dengan jarang teringat betapa perjuangan para sahabat dalam menjaga wahyu Allah ini begitu berat. Semoga Allah ridho kepada mereka semua.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s