Visualisasi

Anda bisa membayangkan apa yang saya katakan berikut ini. Anda berjalan menuju sebuah lemari es, kemudian Anda buka pintunya. Bayangkan seolah Anda mengambil sebuah jeruk purut, yang kecil dan hijau. Tutup kembali pintu lemari es itu lalu ambil pisau. Gunakan pisau itu untuk mengiris jeruk purut yang Anda bawa hingga terbelah dua. Lalu bayangkan jeruk purut itu Anda angkat di atas lidah Anda yang menjulur, lalu peras jeruk purut itu. Bayangkan tetesan air dari jeruk purut itu jatuh di lidah Anda, tetesan demi tetesan.

Baik, mungkin Anda belum menutup mata untuk membayangkan apa yang tadi saya katakan. Namun Anda sudah memperhatikan ada rasa kecut masam yang muncul di lidah Anda. Kini cobalah dengan menutup mata, lakukan dengan senyata mungkin apa yang tadi saya katakan. Sekarang.

Anda baru saja melakukan visualisasi, dalam pengertian saya visualisasi merupakan proses membangun realitas di alam pikir. Sehingga kita benar-benar merasa itu terjadi. Visualisasi memiliki kekuatan yang sangat hebat, karena otak kita sebenarnya tidak pernah membedakan apa yang terjadi secara nyata dengan apa yang terjadi di alam pikir. Contohnya, saat Anda tidur dan bermimpi dikejar oleh anjing dan harus berlari sekian jauh, kemudian tiba-tiba Anda terbangun, maka Anda akan dapati bahwa jantung Anda berdetak kencang dan keringat Anda bercucuran. Padahal Anda hanya berbaring di atas kasur. Hal itu dikarenakan otak memproses sensasi mimpi seolah Anda benar-benar mangalaminya, sehingga otak memerintahkan organ-organ tubuh untuk menyesuaikan aktivitasnya.

Contoh lain, jika Anda jijik dengan ulat maka sekarang saya ingin Anda bayangkan ulat itu berada di dalam imajinasi Anda. Semakin besar dan besar. Semakin jelas bentuk rupanya. Jika Anda benar-benar jijik dengan ulat, maka bulu kuduk Anda akan berdiri walaupun ulat itu tidak benar-benar Anda lihat secara nyata, hanya dalam bentuk visual di pikiran Anda. Hal itu, sekali lagi, karena otak tidak pernah membedakan apa yang terjadi secara nyata dengan apa yang terjadi di alam pikir.

Setelah memahami hal tersebut, kita bisa mengambil manfaat untuk meningkatkan kapasitas diri.  Seorang atlet senam berusia muda asal Inggris, peraih medali perak kejuaraan Commonwealth pada tahun 2002 berhasrat untuk menjuarai Olimpiade. Rebecca Owen, sang atlet, harus menguasai suatu gerakan senam yang sulit, yang disebut “Ginga Salto”, yaitu terbang lepas dari bar atas lalu jungkir balik separuh putaran sebelum menangkap bar kembali.

Colin, pelatih Rebecca, memiliki suatu teknik khusus untuk mengajar gerakan baru pada para atlet. Setiap gerakan baru harus diperkenalkan kepada pikiran atlet untuk membangun kebiasaan sebagai gerakan yang otomatis. Caranya adalah dengan berlatih secara intensif, karena pembiasaan diperoleh dari pengulangan-pengulangan perilaku. Namun, latihan fisik seperti itu terbatas pada waktu dan fasilitas. Para atlet harus tetap bisa berlatih di luar jam dan arena latihan. Untuk itulah visualisasi diterapkan.

Rebecca harus berkonsentrasi dan memainkan setiap tahap gerakan senamnya di dalam otaknya, hal itu dilakukan untuk menciptakan rangkaian jalan di sel-sel otaknya (myelin). Ini berarti saat ia melakukan dengan sebenarnya akan menjadi semakin mudah karena jalan di otaknya sudah tersedia. Cara tersebut berhasil, Rebecca Owen dapat menguasai gerakan barunya dengan baik.

Visualisasi memberikan efek keyakinan bahwa tujuan itu mampu digapai, sehingga meletuplah semangat untuk benar-benar mewujudkannya. Saya teringat sepenggal kisah dalam episode perang Khandaq yang melegenda itu. Saat kaum muslim di Madinah terancam oleh rencana penyerbuan kafir Quraisy dari Mekkah, Sahabat Salman Al Farisi ra. mengusulkan membuat parit perlindungan di sepanjang sudut terbuka untuk menghalangi serbuan pasukan musuh. Selama proses penggalian, ditemukan sebuah batu besar yang tak mampu dihancurkan.

Rasulullah kemudian turun tangan, Rasulullah membaca basmallah dan mengangkat kedua tangannya memegang sebuah tembilang. Diayunkannya ke batu besar itu. Kilatan api menyilaukan. Rasulullah bersabda “Allahu Akbar. Aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Persi. Kilatan api tadi memperlihatkan istana Hira.” Kembali tembilang itu diangkat dan dihantamkan ke batu besar. Kilatan api kembali menyeruak. “Allahu Akbar. Aku telah dikarunia kunci-kunci negeri Romawi. Kilatan ini memperlihatkan istana merah.” Sekali lagi dihantamkan tembilang Rasulullah, dan batu besar itu pecah. Beliau mengabarkan bahwa beliau melihat istana negeri Siria, San’a, dan negeri-negeri lain yang nantinya akan dikuasai kaum muslimin.

Kemudian janji Allah itu nyata terlaksana, semua istana yang diperlihatkan kepada Rasulullah akhirnya dikuasai oleh umat Islam. Gambaran yang diberikan membawa keyakinan kepada tentara Allah atas apa yang akan diperoleh. Visualisasi istana-istana itu merasuk ke otak dan ke hati menjadi letupan semangat juang berlandaskan keimanan. “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Ini pasti benar.”

Maka Anda bisa melakukan visualisasi kapanpun saat dibutuhkan. Ketika akan presentasi, berlomba, belajar teknik-teknik baru, bertemu dengan orang penting, dan beragam hal lain. Visualisasi akan memberikan gambaran pada otak mengenai situasi yang akan dihadapi sehingga membuat Anda jauh lebih siap dalam menampilkan kemampuan terbaik Anda.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s