Tulisan Persahabatan

Sebuah kisah di negeri antahberantah. Dua orang pria, yang merupakan sahabat, pergi bersama melintasi sebuah padang pasir nan gersang. Saat itu mereka sedang bertengkar hebat, hingga salah seorang  menampar pipi sahabatnya. Namun, sang sahabat tidak lama memendam rasa sakit hati akibat tamparan yang diperolehnya. Ia hanya menuliskan di atas pasir, “SAHABAT TERBAIKKU MENAMPARKU HARI INI”.

Mereka tak saling bicara hingga tiba di sebuah oase, pria yang tadi terkena tamparan hendak mengusir gerah dengan berenang. Namun, ternyata air di kolam itu sangatlah dalam. Ia hampir saja tenggelam jika sahabatnya tak segera melemparkan sebuah tali untuk menyelamatkan nyawanya. Merasa berhutang nyawa, ia pun mengukir di atas batu, “SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN HIDUPKU HARI INI.”

Melihat ulah sahabatnya, ia pun bertanya “Mengapa tadi saat kutampar, kau menuliskannya di atas pasir. Sedang kini kau menuliskannya di atas sebuah batu?” Dengan senyum merekah, jawaban pun diucapkan “Aku menulis perbuatanmu yang menyakitkanku di atas pasir agar hembusan angin maaf segera menghapusnya, sedang kutulis kebaikanmu padaku di atas batu agar ia akan selalu tersimpan sebagai kenangan abadi.” Akhirnya kedua sahabat itu berpelukan.

Persahabatan bagaikan ombak di tepi pantai. Kadang surut karena pertengkaran, kesalahpahaman, perbedaan keinginan. Kadang pasang karena kebersamaan, keberhasilan bersama, sekalipun itu kegagalan bersama. Namun indahnya pantai adalah karena ombaknya, bukan semata air lautnya. Pasang surut perjalanan sepasang sahabat akan menjadi kenangan pembangkit rindu di kala keduanya terpisah jarak. Dan tanda seorang sahabat adalah, sepahit apapun pengalaman kebersamaan akan terasa manis untuk dikenang. Karena ia memaafkan kesalahan sahabatnya dan mengingat kebaikan-kebaikannya.

Mencintai sahabat merupakan perkara yang mulia, sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah,

Anas bin Malik ra. menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR bukhari dan muslim).

Sahabat memberikan warna bagi kehidupan kita, dan segala yang berwarna secara fitrah lebih menarik pandangan manusia karena keindahannya. Segala tulisan yang telah ditorehkan oleh sahabat kita dalam menapaki perjalanan bersama menjadi kenangan terindah untuk menemani hari-hari tua kita, saat ingatan ini akan sering terbang menuju masa lalu. Dalam kenangan itulah, kita akan dapati wajah-wajah syahdu untuk kita ucapkan kepada mereka, “terima kasih, wahai sahabat, untuk semua yang telah berlalu, aku tak akan selengkap ini tanpa kehadiranmu”. Itulah tulisan kita yang akan terpatri di atas batu, tak akan lekang terhembus waktu.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s