Teliti Diri Sendiri

Alkisah, suatu ketika di sebuah airport, seorang wanita sedang menunggu keberangkatan pesawatnya. Karena pesawat masih akan terbang satu jam ke depan, wanita itu pun membeli majalah dan sekantong kue untuk mengisi waktu. Dimasukannya ke dalam tas dan ia pun duduk di sebuah bangku di samping seorang pria.

Dikeluarkannya majalah yang ia beli sambil menikmati kue yang diletakkan di antara mereka. Tiba-tiba pria di sebelahnya dengan berani mengambil kue itu. Wanita itu sangat kesal karena pria itu  tanpa izinnya langsung mengambil kuenya. Namun, ia biarkan saja karena tak ingin mencari perkara. Tiap kali wanita mengambil satu kue, pria itu pun mengambil satu. “Sungguh tak tahu malu orang ini“ gumam wanita itu.

Akhirnya kue di dalam kantong tinggal satu, pria itu dengan tersenyum mengambil kue itu dan membaginya kepada sang wanita. Dengan berang wanita itu merebut kuenya dan beranjak pergi karena penerbangannya telah diumumkan. Ia tak sudi menoleh kepada pria kasar tak tahu malu itu. Di dalam pesawat ketika ia telah selesai membaca majalahnya, dimasukannya majalah tersebut ke dalam tas dan betapa kagetnya ia ketika menemukan sekantong kue di dalam tasnya. Wanita itu baru menyadari bahwa kue yang tadi ia makan adalah kue milik pria itu. Jadi dirinyalah yang sebenarnya tak tahu malu. Sudah terlambat untuk meminta maaf, pesawat telah berangkat membawa penyesalan di hati wanita itu.

Kisah di atas merupakan ilustrasi betapa kita seringkali meruntuhkan martabat diri dengan memberikan prasangka-prasangka buruk kepada orang lain. Kita mengangkat diri kita ke atas podium kebenaran dan memandang rendah orang-orang di sekitar. Namun ternyata, podium kita kemudian amblas ke dalam lubang penyesalan, karena ternyata orang yang kita rendahkan bahkan lebih terhormat dari diri kita.

Don’t judge the book from its cover. Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan semata, karena martabat tidak sekedar terlihat dari yang tampak. Jika Anda kebetulan mendapati seorang lelaki tua dengan celana pendek sedang berjalan santai, Anda bisa pikir dia biasa-biasa saja, walaupun sebenarnya dia adalah Bob Sadino, salah satu orang terkaya di indonesia yang gemar memakai celana pendek.

Saya belajar poin penting dari sebuah pengalaman. Suatu ketika saya menghadiri sebuah acara malam penganugerahan bagi mahasiswa berprestasi di kampus saya, yang memang merupakan acara terbuka. Saya berkenalan dengan beberapa orang baru, salah satunya seorang laki-laki seumuran saya yang pendiam. Saat kami berbicara, ia lebih banyak mendengarkan dan diam. Jelas ia tipikal mahasiswa biasa-biasa saja, tanpa banyak hal yang dapat ia gunakan sebagai bahan pembicaraan. Namun betapa terkejutnya saya saat acara dimulai. Pembawa acara memanggil seorang mahasiswa pemenang kejuaraan ilmiah tingkat internasional, dan sang pemilik nama itu adalah dia, lelaki pendiam terkesan minder yang baru saja berkenalan dengan saya. Sejak saat itu, saya lebih memilih untuk tidak memberikan penilaian negatif kapada apa yang sekedar tampak pada diri seseorang. Apalagi menganggap diri sendiri lebih tinggi derajatnya, sungguh hal itu merendahkan martabat diri sendiri.

Berikut sebuah kisah yang telah banyak dikenal mengenai sosok Salman Al-Farisi, sahabat rasulullah yang saat itu mengemban amanah sebagai walikota Madain. Suatu hari ketika Salman sedang berjalan di kotanya, ia bertemu dengan seorang pengembara dari Syam yang membawa sepikul buah tin dan kurma yang berat. Saat itulah pengembara itu melihat seorang laki-laki dengan pakaian sederhana yang tampak miskin, ia berpikir untuk menyuruh laki-laki itu mengangkatkan bebannya yang berat dengan imbalan seberapa. Pengembara itu memanggilnya dan berkata, “tolong bawakan barangku ini”. Lelaki itu, Salman, mengangkat barang itu, dan mereka berdua berjalan bersama.

Hingga di suatu jalan mereka bertemu suatu rombongan. Salman mengucapkan salam kepada mereka, dan dijawablah “kesejahteraan pula untuk walikota”. Pengembara dari Syam itu bertanya-tanya, “siapa walikota yang mereka maksud?”. Kemudian mereka bertemu rombongan lain yang bergegas mendekati Salman, “biarlah kami yang membawakan barang Anda”. Melihat itu, sang pengembara pun menyadari bahwa kuli panggulnya adalah Salman Al-Farisi, walikota Madain. Ia menjadi gugup dan melontarkan permintaan maaf. Ia hendak mengambil beban itu kembali, tetapi Salman menolak, “Tidak, biar kuantarkan sampai tujuanmu.”

Merasa diri lebih tinggi, justru memperlihatkan betapa rendahnya kita. Sebuah titik kejatuhan martabat akibat merendahkan orang lain adalah saat akhirnya kita mengucap “oh ternyata…” sebagai bentuk kesadaran atas kesalahan penilaian yang kita buat terhadap orang lain. Menjaga martabat tidak dilakukan dengan mengumbarnya, sekalipun Anda adalah orang terkaya, sekalipun Anda adalah orang paling berkuasa. Martabat tidak naik bila dikatakan sendiri, martabat akan terhormat manakala kita tidak memperlihatkan apa yang kita punya sampai orang lain melihatnya sendiri. Ketika orang lain mengucap “oh ternyata…” maka martabat Anda akan terjaga dengan sendirinya.

Kita tidak pernah mengetahui derajat kita dibandingkan orang lain di hadapanNya, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk merasa lebih terhormat. Mungkin kita merendahkan seseorang karena penampilannya, karena kekurangannya dalam harta dan kedudukan, padahal ia adalah yang dimaksud Rasulullah dalam haditsnya:

“Sesungguhnya di kalangan hamba-hamba Allah ada orang yang apabila memohonkan sesuatu maka Allah akan menerimanya (mengabulkannya)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s