Perbesar Gelas

Saya ingat betul dulu selalu dikatakan “kalau mau pintar ya sekolah” atau “sekolah yang tinggi biar hidupmu enak”. Saya pun melakukannya dengan harapan setelah sekolah saya menjadi pintar dan bisa hidup enak. Dari bangku TK sampai perguruan tinggi sudah saya duduki. Kalau dihitung setidaknya sudah 18 tahun saya menimba ilmu di ruang kelas. Menghapal semua teori untuk ujian, mengerjakan tugas sampai larut malam. Mati-matian menghindari remidi, syukur dapat nilai bagus.

Saya ingin mendapatkan semua hal dari sekolah. Saya mencari sekolah dengan reputasi baik, berusaha mendapatkan nilai terbaik. Selama sekolah saya tidak pernah mendapat ranking lebih jelek daripada tiga. Saya bersekolah di sekolah terbaik di kota saya, dan meneruskan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Yogyakarta. Saya menyelesaikan studi saya dalam waktu tiga tahun tujuh bulan (mungkin lebih cepat jika tidak bertepatan dengan meletusnya gunung merapi saat saya mengejar skripsi), dan mendapatkan predikat mahasiswa terbaik bidang akademik untuk fakultas saya, psikologi. Semua saya lakukan karena saya berharap menjadi pintar dan bisa hidup enak.

Setelah itu saya merasa saya telah memiliki semua bekal yang saya butuhkan untuk menjalani hidup. I know everything. Saya sempat bekerja di beberapa tempat, di konsultan perusahaan, di event organizer, bahkan di sekolah. Ternyata hampir semua tugas yang diserahkan kepada saya, tidak bisa saya lakukan. Saat itu saya harus memandu tes rekrutmen calon karyawan perusahaan manufaktur besar, dan saya sama sekali tidak mengenal alat psikotes yang akan dipakai. Pernah saya harus merancang konsep pelatihan untuk suatu perusahaan, dan saya kebingungan bagaimana harus memulai. Ketika diamanahi mengurus administrasi pembelajaran sebagai seorang konselor di sekolah, saya hanya bisa duduk di depan komputer kantor mencari contoh apa yang sebenarnya harus saya tuliskan. Saya bingung.

Semua yang harus saya lakukan di dunia nyata itu membutuhkan keahlian yang tidak saya dapati selama duduk di bangku sekolah selama hampir seperlima abad lamanya. Yang saya tahu, saya melompat dari anggapan I know everything menjadi I know nothing. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan saya adalah belajar hal-hal yang perlu saya ketahui untuk menyelesaikan amanah yang diberikan kepada saya.

Akhirnya saya belajar bahwa kesalahan terbesar manusia adalah menganggap dirinya mengetahui semua. Karena saat ia merasa tahu semua, ia tidak akan mau menerima hal-hal baru. Bagaikan sebuah gelas yang terisi penuh, tidak akan bisa diisi lagi. Kita membutuhkan gelas yang lebih besar, bukan mengosongkan gelas yang ada. Kita tidak perlu membuang semua ilmu dan pengalaman yang telah kita dapatkan hanya untuk menggantinya dengan yang baru. Kita hanya membutuhkan tempat yang cukup untuk menampung lagi dan lagi.

Segala upaya pertumbuhan diri hendaknya tidak mengenal target selesai. Orang yang ingin pintar tidak cukup mendapatkan kepintarannya setelah mendapatkan gelar akademis tertinggi. Orang yang ingin menjadi baik tidak akan pernah menganggap dirinya sudah baik dan selesai. Orang-orang hebat berpedoman bahwa hari esok lebih baik daripada hari ini, mereka segera mengerjakan urusan lain setelah menyelesaikan urusannya. Tidak ada waktu untuk berhenti naik, karena tak ada tempat yang cukup tinggi jika kita berhenti.

Tetapkan target dan istiqomah melangkah.

Keep Progresive

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s