Panggilan Itu …

Suatu ketika saat handphone Anda berbunyi menandakan teman Anda menelepon, apa yang Anda lakukan? Ya, segera mengangkatnya. Itu baru teman, bagaimana jika bos Anda yang memanggil?

Suatu kali jika teman Anda mengundang makan malam gratis di sebuah restoran mewah, apa yang Anda lakukan? Ya, segera mendatanginya. Itu baru teman, bagaimana jika sahabat karib Anda yang memanggil?

Suatu saat asisten dosen mengabari Anda bahwa Anda harus segera ke kampus untuk perbaikan nilai saat itu juga, apa yang Anda lakukan? Ya, segera menemuinya. Itu baru asisten, bagaimana jika dosen Anda yang memanggil?

Atau, di atas itu semua, bagaimana jika Pemilik Waktu Anda yang memanggil?

Lantunan suara adzan yang menghiasi langit dan bumi itu, kita tak menggubrisnya, mungkin karena terlalu biasa terdengar.  Panggilan itu kita sepelekan, pemilik seruan itu kita akhirkan. Sudikah kiranya Anda berkata “nanti Pak, saya sedang sibuk!” kepada bos yang memanggil Anda? Bayangan Anda adalah pemecatan jika menunda memenuhi panggilan. Tak terbayangkah pada Anda perihnya neraka?

Dari nu’man bin basyir ra, ia berkata ; “saya mendengar rasulullah saw bersabda; ‘sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka pada hari kiamat , ialah seseorang yang dibawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya; sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorangpun yang lebih berat siksaannya dari pada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi ahli neraka’ “ (HR. Bukhari dan Muslim).

Menyepelekan perkara memenuhi panggilanNya diam-diam telah merasuk ke dalam jiwa kita. “Masih ada waktu”, begitu pikir kita. Kita lupa bahwasanya siapakah pemilik waktu? Siapakah pemilik nyawa ini? Bahkan mungkin satu detik selanjutnya tubuh ini hanyalah seonggok daging tanpa nyawa. Namun, tetap saja, kita menunda.

Saya temui seorang tua disebuah masjid, berusia 80 tahun lebih, kakek ini selalu datang memenuhi panggilan shalat secara berjama’ah dan menikmatinya sebagai sebuah kebahagiaan yang sangat. Ada pula seorang kakek yang selalu datang berjalan kaki walaupun sesungguhnya ia tak kuat shalat dengan berdiri sehingga harus duduk. Bila berdiri saja ia payah, mengapa ia bersikeras berjalan memenuhi panggilanNya? Subhanallah. Bahkan saya temui seorang buta yang ia datang sebelum waktu shalat, ia kumandangkan adzan dan tak pernah ketinggalan shaf pertama. Bagaimana dengan manusia yang masih kuat, manusia yang sehat, manusia yang tanpa cacat? Ke manakah mereka saat dipanggil oleh Tuhannya? Apa pembelaan mereka kelak pada hari yang dijanjikan?

“… (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?” (Q.S. Al- Muthaffifin: 6).

Ibnu Umar ra. mengulang-ulang ayat tersebut dan air matanya terus mengalir sampai ia jatuh pingsan. Bila Ibnu Umar ra. dengan segala amalannya masih takut menghadapNya, lalu bagaimana dengan kita?

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s