Menjaga Kehormatan

Suatu siang yang panas dalam perjalanan menuju Jakarta menggunakan kereta, saya terhentak kaget dengan suara gedoran dari luar gerbong saat kereta berhenti di stasiun Ciledug. Setelah saya menengok ke luar jendela, saya bertambah kaget. Sekelompok anak-anak usia SD menabuh-nabuh gerbong kereta persis di bawah jendela. Mereka meminta uang, “Pak Bu bagi uangnya dong! bagi uangnya dong!” dengan suara keras dan sedikit memaksa dengan menggedor badan gerbong. Saat itu seorang ibu yang duduk di depan saya melemparkan selembar uang seribu rupiah ke luar jendela dan ditangkap oleh seorang anak perempuan. Tak berselang lama, anak-anak lain mulai berdatangan di bawah jendela tempat di mana ibu itu duduk, mereka meminta diberi uang seperti teman mereka yang tadi, dan dengan menggedor gerbong kereta. Syukur kereta mulai melaju, hati saya miris dengan peristiwa itu. Anak-anak kecil dengan tenaga yang dimiliki, dengan masa depan yang panjang, dengan harapan yang diembankan pada pundak mereka, harus kehilangan kehormatan sejak usia begitu belia dengan meminta-minta sebagai usaha. Tidak ada raut malu atau terpaksa, mereka justru bangga dan bahagia dengan meminta.

Pernah suatu ketika saya sedang berada di warung soto pinggir jalan di seberang stasiun Tugu Yogyakarta, tiba-tiba datang seorang pengamen dengan gitarnya. Berbeda dengan pengamen sebelumnya yang berkelas dan menyanyi dengan sungguh-sungguh hingga lagu selesai, pengamen laki-laki dewasa yang ini hanya “asal jreng” dalam memainkan gitarnya, bernyanyi tidak jelas dengan suara bergumam langsung mendekati para pembeli soto, begitu diberi uang ia langsung pergi, memutus lagu tanpa peduli. Saya perhatikan, pengamen itu pergi menyeberang jalan dan membeli rokok. Bahkan setelah itu ia kembali dan duduk-duduk di depan warung menunggu pelanggan lainnya. Apa-apaan ini? Di mana kehormatan orang itu? Tanpa malu ia berbuat demikian. Ia tidak layak disebut mengamen, ia meminta, bukan karena terpaksa tapi untuk ditukar dengan seputung rokok yang habis sekejap saja.

Seandainya mereka ingat akan hadits Rasulullah mengenai apa yang mereka kerjakan, semoga mereka mampu menjaga kehormatannya.

Dari Abu Hurairah ra ia berkata; rasulullah saw bersabda; “siapa saja yang meminta- minta kepada sesama manusia dengan maksud untuk memperbanyak harta kekayaan, maka sesusungguhnya ia meminta bara api; sehingga terserah kepadanya apakah cukup dengan sedikit saja atau akan memperbanyaknya  (HR Muslim).

Dari Samurah bin Jundub ra;  ia berkata rasulullah saw bersabda; ” Sesungguhnya meminta-minta itu adalah cacat (luka) yang digoreskan orang di wajahnya, kecuali apabila ia meminta kepada penguasa atau karena keadaan terpaksa  (HR Tirmidzi).

Dari Iibnu Mas’ud ra  ia berkata ; Rasulullah saw bersabda” Siapa saja yang tertimpa kekurangan , kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia  , maka kekurangannya tidak akan tertutupi. tetapi siapa saja yang mengadukannya kepada Alloh , maka Alloh akan memberikan  kepadanya rezeki segera ataupun lambat  (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah ra.  ia berkata rasulullah saw bersabda; “bukan dinamakan orang miskin, orang yang meminta-minta kemudia ia tidak memperoleh sesuap dan dua suap makanan atau tidak memperoleh satu dan dua buah butir kurma tapi yang dinamakan orang miskin adalah orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya  dan tidak pernah berpikir untuk diberi sedekah dan ia juga tidak mau pergi untuk meminta-minta kepada orang lain  (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Bisyr Qabishah bin al Mukhariq ra,  ia berkata; saya adalah orang yang menanggung beban amat berat, maka saya mendatangi rasulullah saw untuk meminta bantuannya meringankan beban itu, kemudia beliau bersabda ” tunggulah  sampai ada zakat yang datang ke sini, nanti akan aku suruh si amil (pengumpul dan pembagi zakat) untuk memberi bagian kepadamu , kemudia beliau bersabda; Wahai Qabishah , meminta-minta  itu tidak diperbolehkan  kecuali ada salah satu dari 3 sebab;

– pertama seseorang yang menanggung beban yang amat berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapa memperingan bebannya; kemudia ia mengekang dirinya untuk tidak meminta-minta lagi;

– kedua seseorang yang tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak,

– yang ketiga seorang yang sangat miskin sehingga ada tiga orang yang bijaksana diantara kaumnya mengatakan” si fulan benar-benar miskin” maka ia diperbolejkan meminta-minta, sampai dapat hidup dengan layak,

wahai Qabishah meminta-minta selain disebabkan tiga hal tadi adalah usaha yang haram dan orang yang memakannya berarti ia makan barang haram  (HR  Muslim).

Kehormatan manusia tidak terletak pada banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi sejauh mana ia berusaha menapaki jalan yang diridhoi oleh Tuhannya.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s