Mengejar Usia

Mati berada di antara pasti dan tidak pasti. Saya tantang Anda, bagi siapa saja yang yakin besok pagi masih hidup silakan angkat tangan! Saya yakin Anda tidak mengangkat tangan, dan semoga memang tidak. Mati itu pasti jika dilihat dari keberadaannya, maksud saya semua yang hidup masti akan mati, jadi mati itu ada dan pasti terjadi. Namun, jika dilihat dari waktu terjadinya maka tidak ada yang bisa memastikan kapan kematian mendatangi kita.

Ada dokter yang memvonis pasiennya hanya akan mampu bertahan hidup seminggu lagi, tapi justru dokternya yang sudah meninggal tiga hari kemudian. Bisa jadi seorang hakim menjatuhi eksekusi mati tertanggal bulan depan kepada terpidana, tetapi justru esoknya sang hakim yang mendahului pergi ke alam sana. Artinya kehidupan yang kita miliki tidak lah abadi. Ada saatnya nanti kita harus pergi, tepatnya kembali ke kampung halaman yang hakiki.

Rasulullah memberikan nasehat yang sangat indah mengenai bagaimana kita harus menyikapi kehidupan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari:

Dari Ibnu Umar ra beliau berkata: Rasulullah saw memgang pundakku kemudian bersabda: “ Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang lewat di jalan.” Dan Ibnu Umar berkata: “Ketika sore, janganlah engkau menanti pagi, dan ketika pagi, janganlah engkau menanti sore hari, dan pergunakanlah kesehatanmu untuk sakitmu, dan pergunakanlah hidupmu untuk matimu.”

Apa yang dilakukan seorang pengembara saat ia harus singgah di sebuah desa? Satu hal yang pasti, ia tidak berencana menetap di sana. Ia hanya akan mengumpulkan bekal untuk kembali melangkah menuju tempat tinggalnya yang tetap. Jadi, pengembara tidak akan menggunakan kesempatannya singgah untuk bersenang-senang dengan tidur pulas sepanjang hari, berangan-angan terlalu tinggi tanpa menggerakkan badan untuk mencari bekal pergi esok hari.

Salman Al – Farisi, seorang sahabat nabi yang terkemuka, saat menjabat sebagai walikota Madain ia tak mengambil uang gajinya sedikitpun. Uang itu ia putuskan untuk dibagikan semuanya. Salman hidup dari menganyam daun kurma untuk dijadikan keranjang. Marilah kita dengar penuturannya.

“Aku membeli daun kurma seharga satu dirham. Daun itu kubuat keranjang. Kemudian kujual dengan harga tiga dirham. Satu dirham kugunakan untuk modal usaha, satu dirham untuk nafkah keluargaku, dan satu dirham lagi untuk sedekah”.

Saat Salman berbaring menunggu ajalnya, Sa’ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya. Kehadiran Sa’ad disambut tangisan Salman. “Aku menangis bukan karena takut mati atau mengharap kemewahan dunia”, Kata Salman penuh kegundahan, “Rasulullah telah berpesan agar mengambil bekal di dunia seperti seorang musafir. Padahal harta milikku seperti ini banyaknya.” Sa’ad kemudian memperhatikan sekitar dan tidak mendapati apa-apa kecuali satu piring dan satu baskom.

Perhatikan bagaimana Salman Al-Farisi menyikapi hidupnya. Ia tak mau terpenjara kenikmatan fana, pikirannya melayang jauh ke kampung halaman semua manusia, negeri surga nun jauh di sana.

Saya sering bertanya kepada diri sendiri, apa bedanya saya hadir di dunia dan tidak sama sekali? Adakah sesuatu hal yang membuat keberadaan saya berarti, atau sebenarnya keberadaan saya tidak dikehendaki? Memang kehidupan manusia tidaklah sia-sia. Namun hanya ada dua jenis manusia di muka bumi ini. Pertama, manusia yang dijadikan penciptaNya sebagai suri tauladan, atau kedua, manusia yang dijadikan penciptaNya sebagai contoh keburukan.

Jika ada sesuatu yang paling harus kita syukuri selain iman, itu adalah kesempatan. Kesempatan adalah peluang kita untuk menambah gerak ke arah kebaikan, ke arah yang diinginkan olehNya. Tanpa peduli kapan usia kita habis, selama saat ini masih terasa desah nafas kita, maka inilah momen yang tepat untuk membuat progres.

Pernahkah Anda sadari betapa waktu sering kali pergi begitu saja tanpa makna. Mari kita hayati bersama mengenai waktu. Berapa waktu yang kita punya selama satu tahun?

1 Tahun = 12 bulan = 52 minggu = 365 hari = 8760 jam = 525600 menit = 31536000 detik

Manusia hidup setidaknya 63 tahun, di mana kesadaran untuk hidup dimulai saat telah mencapai usia baligh yaitu 13 tahun. Sehingga asumsi waktu yang tersisa bagi kita untuk menjalani kehidupan dapat dihitung dengan rumus: mati-baligh, yaitu 63 – 13 = 50 tahun atau 18250 hari.

Sekarang mari kita cermati bersama. Biasanya orang memuaskan hasrat untuk tidurnya selama 8 jam sehari. Jadi dalam waktu 50 tahun kehidupan, kita gunakan untuk tidur selama 18250 hari x 8 jam = 146000 jam, setara dengan 16 tahun 7 bulan.

Biasanya orang mulai beraktivitas teratur seperti bekerja atau belajar sejak pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore = 8 jam. Sekali lagi 16 tahun 7 bulan kita gunakan untuk berkegiatan. Sayangnya aktivitas kerja atau belajar kita seringkali dibumbui waktu bergosip, bermain game online, bahkan pacaran atau malah korupsi.

Setelah beraktivitas, sudah saatnya kita habiskan waktu untuk bersantai seperti menonton sinetron, melamun dan berkhayal, main game lagi, atau tidur lagi. Katakan Saat bersantai kita adalah 4 jam, yang berarti dalam 50 tahun kita habiskan 8 tahun untuk menganggur.

Sehingga, 50 tahun – 16 tahun 7 bulan – 16 tahun 7 bulan – 8 tahun = 8 tahun 10 bulan. Kita anggap saja ada bonus 2 bulan, sehingga bisa jadi dalam 50 tahun jatah usia kita, kita hanya memiliki kesempatan berkarya selama 9 tahun. Pertanyaan saya, sudah berapa tahun usia kita sekarang? Berapa yang tersisa jika asumsi kesempatan hidup kita 50 tahun? Dan yang terpenting, sudahkah ada karya kita untuk membuktikan bahwa diri kita pernah ada di dunia? Atau jangan-jangan pikiran yang saya khawatirkan terbukti, bahwa ada atau tidaknya kita di dunia tidak ada bedanya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s