Mengatasi Kesalahan Berpikir

Tulisan yang akan saya kemukakan berikut ini adalah contoh-contoh kesalahan berpikir yang umum dilakukan oleh siapapun. Pada dasarnya pikiran kita akan mempengaruhi perasaan dan konsep diri. Apakah merasa senang atau sedih, menganggap diri positif atau negatif. Jika kita berpikir telah mengecewakan orang lain maka kita akan cenderung merasa sedih dan menganggap diri kita sebagai orang yang gagal. Meskipun sebenarnya orang lain tidak merasa dikecewakan, pikiran kita lah yang memegang kendali.

Sebuah jargon dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) menyatakan “the map is not the teritory”, peta bukanlah wilayah aslinya. Dalam hal ini peta adalah pikiran kita dan wilayah adalah kenyataan yang terjadi. Contoh yang mudah adalah fobia. Fobia merupakan rasa takut yang tidak wajar. Jika Anda takut pada ular kobra itu wajar karena memang berbahaya, tapi Anda tidak akan mendapatkan alasan yang masuk akal untuk takut pada kecoak. Secara nyata kecoak adalah binatang kecil, tidak berbahaya dan mudah disingkirkan, tetapi ada saja manusia yang takut dengan binatang ini, ia akan berteriak dan lari jika bertemu dengan binatang mungil ini. Kenapa?

Jawabannya adalah karena ia tidak takut pada kecoak secara nyata, tapi ia takut pada bayangan kecoak di pikirannya. Di dalam pikirannya kecoak terlihat sangat berbeda dengan yang asli. Ia bisa membayangkan gigi bertaring pada mulut kecoak yang penuh air liur, duri-duri tajam pada kaki-kakinya, kuman-kuman yang menyelimuti tubuh kecoak, dan menambahkan hal – hal lain yang menakutkan. Sekali lagi, ia tidak takut pada kenyataan tapi ia takut pada pikirannya sendiri. Seperti halnya orang yang takut ketinggian, sebenarnya ia tidak takut tempat tinggi tapi ia takut dengan pikirannya jika ia jatuh. Itulah gambaran ringkas kesalahan berpikir.

Pada dasarnya kita akan mampu bertindak lebih baik jika kita menyadari apa yang sesungguhnya terjadi pada pikiran kita. Langkah pertama penyembuhan adalah dengan menyadari bahwa kita sakit. Dengan mengenali tipe-tipe kesalahan berfikir, kita akan memiliki kesempatan untuk mengubahkan, dan bukan menerima pikiran kita sebagai sebuah keyakinan.

Saya akan paparkan beberapa jenis kesalahan berpikir yang umum terjadi, dan Anda bisa mencari sendiri contohnya yang mungkin sedang atau pernah Anda alami.

Menyalahkan (Blaming) – Anda menyalahkan pihak luar bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Anda. Di mana Anda memposisikan diri sebagai korban pada situasi yang Anda alami. Contohnya sebagai berikut.

Anda merasa sedang tidak bersemangat untuk belajar menghadapi ujian esok hari. Saat ujian berlangsung Anda merasa kesulitan dan benar saja ternyata Anda mendapatkan nilai tidak memuaskan. Anda menganggap bahwa guru Anda tidak mampu mengajar dengan baik.

Jika Anda telah menyadarinya, langkah terbaik yang saya sarankan adalah ambil kembali tanggung jawab yang Anda lemparkan kepada pihak lain. Anda yang lebih berhak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri Anda, sehingga Anda yang mengubah perilaku untuk memperbaiki keadaan. Jangan berharap orang lain berubah untuk Anda. Dalam contoh kasus tadi, Anda harus belajar lebih giat alih-alih menunggu guru mengubah cara mengajarnya untuk Anda.

Beralasan (Excuse) – Anda mencari-cari alasan untuk membenarkan kegagalan Anda dan keberhasilan orang lain. Seakan-akan Anda ingin mengatakan bahwa wajar bila saya gagal dan ia berhasil karena saya punya alasan. Biasanya alasan tersebut berupa faktor luar yang tidak bisa kita usahakan. Contohnya sebagai berikut.

Anda lulus kuliah dengan IPK yang sama dengan teman Anda. Setelah beberapa waktu berlalu di dunia kerja, teman Anda dipromosikan sebagai kepala seksi sementara Anda masih saja menjadi karyawan biasa. Anda katakan bahwa wajar jika teman Anda mendapat promosi karena ia keturunan orang kaya di kota, sementara Anda anak desa biasa.

Jika Anda menyadari kesalahan berpikir ini, maka Anda sebaiknya mengganti alasan yang mendukung kegagalan Anda dengan alasan yang lebih mampu diusahakan. Dalam kasus tadi Anda bisa ganti alasan Anda mengatakan teman Anda anak orang kaya dan Anda adalah anak biasa menjadi alasan yang mengatakan bahwa teman Anda lebih berhasil karena lebih mampu memanfaatkan peluang atau lebih disiplin, dan Anda juga bisa melakukannya pada kesempatan yang akan datang sehingga memiliki peluang untuk mendapat promosi jabatan.

Khawatir berlebihan (Catastrophizing) – Anda menduga bahwa bencana akan terjadi berikut akibat buruknya kepada Anda. Anda merasa kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan begitu besar, dan Anda tidak mampu mengatasinya. Ditandai dengan pikiran “bagaimana jika…”. Contohnya sebagai berikut.

Sebuah kontrak untuk proyek pembangunan real estate besar ditawarkan pada Anda. Menurut perhitungan Anda jika semuanya berjalan sesuai rencana maka Anda akan mendapatkan keuntungan besar. Anda mulai berfikir jika saja nanti terjadi gempa bumi saat pembangunan berlangsung maka Anda akan kehilangan kontrak dan menanggung kerugian yang besar. Anda putuskan untuk melepas proyek itu.

Jika Anda telah menyadari pikiran ini, maka satu hal lagi yang perlu disadari bahwa ada juga kemungkinan bencana tidak terjadi. Artinya Anda harus mengubah fokus. Sama seperti Anda melihat bunga melati yang diberi pupuk kandang. Jika Anda fokus pada melati maka mata Anda akan segar, tapi jika Anda fokus pada pupuk kandang maka aroma tidak enak yang akan Anda cium. Karena itu, fokuslah pada kemungkinan rencana Anda berjalan lancar.

Membaca pikiran (Mind reading) – Anda sok tahu atas apa yang orang lain pikirkan. Anda menyimpulkan pikiran orang lain terhadap Anda tanpa bukti yang kuat. Dengan kata lain Anda berburuk sangka atas apa yang orang lain pikirkan tentang Anda. Contohnya sebagai berikut.

Anda bertemu dengan orang asing, lalu Anda mencoba untuk berkenalan dan berbincang dengannya. Kenalan Anda menjawab pertanyaan Anda dengan kalimat singkat, sangat singkat. Kemudian Anda menilai diri Anda sebagai pribadi yang sangat membosankan dan tak pandai bergaul.

Jika Anda telah menyadarinya, maka berbaik sangkalah pada orang lain. Anda bisa menganggap orang lain menilai Anda baik sebagai mana Anda mampu menganggap orang lain menilai Anda buruk. Dalam kasus ini Anda bisa berfikir bahwa kenalan Anda adalah orang yang pendiam kepada orang yang baru ia kenal, dan Anda membuatnya cukup nyaman untuk bisa sedikit berbincang. Atau mungkin ia sedang memiliki masalah dan tak ingin membebani Anda. Jika Anda bisa berpikir baik, kenapa harus berpikir buruk.

Menggeneralisasikan (Generalizing) – Anda membuat kesimpulan yang terlalu melebar dengan bukti yang begitu sempit. Di mana satu kesalahan kecil yang sesekali terjadi Anda anggap sebagai masalah serius yang akan terus Anda dapatkan sepanjang hidup. Contohnya sebagai berikut.

Suatu hari Anda diminta untuk berpidato mengenai topik tertentu. Anda melakukannya. Saat berbicara Anda salah mengatakan selamat malam dengan selamat siang. Anda merasa malu dan setelah itu Anda menganggap bahwa diri Anda benar-benar tidak berbakat untuk berbicara di depan umum.

Jika Anda telah menyadari pikiran ini,  Anda harus memberi kesempatan kepada diri Anda untuk mencobanya lagi. Dalam kasus ini katakan pada diri Anda bahwa Anda melakukan kesalahan itu pada kesempatan ini, dan Anda hanya akan berhenti berpidato jika Anda kembali melakukan kesalahan yang sama lima kali berturut-turut. Dengan demikian Anda tidak memutuskan sesuatu dengan pertimbangan yang kurang.

Membesarkan (Magnification) – Anda mengambil satu peristiwa negatif yang remeh/sepele lalu menganggapnya serius dan melupakan peristiwa-peristiwa positif yang telah Anda peroleh. Seperti peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Contohnya sebagai berikut.

Ketika Anda memilih baju baru dan memakainya saat acara resmi, beberapa teman Anda mengatakan pujian bahwa Anda terlihat begitu menawan. Saat beberapa pujian mengalir, seorang kawan menanyakan kenapa ada sedikit noda di bagian lengan baju Anda. Seketika itu juga Anda merasa tidak begitu menarik lagi dan pikiran Anda terus-menerus terusik dengan noda yang sedikit itu, yang sebenarnya tidak terlihat jika tidak diperhatikan.

Jika Anda telah menyadari hal ini, maka Anda sebaiknya mengingat kembali bahwa Anda juga memiliki hal-hal positif yang sebanding atau bahkan lebih besar daripada hal negatif yang kini sedang Anda pikirkan. Tidak ada manusia yang sempurna, akan selalu ada cacat dan itu biasa.

Personalisasi (Personalization) – Anda menganggap bahwa apapun yang orang lain lakukan atau katakan selalu ditujukan untuk Anda. Di mana Anda merasa sangat sensitif dan selalu merasa tersindir. Contohnya sebagai berikut.

Anda berbincang santai dengan teman kuliah Anda mengenai dosen baru. Teman Anda mengatakan bahwa dosen baru itu sangat tidak menghargai mahasiswa yang tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar dan menganggap mahasiswa seperti itu tidak berguna. Anda tiba-tiba merasa bahwa teman Anda sebenarnya sedang menjelekkan bahwa Anda bodoh.

Jika Anda telah menyadari pikiran ini, Anda bisa menarik napas panjang dan tersenyum. Sadari bahwa orang lain mungkin tidak bermaksud menyindir Anda. Dan jikapun begitu maka sesungguhnya Anda bisa berterima kasih padanya karena telah memberi Anda masukan yang berharga sehingga Anda memiliki bahan untuk mengoreksi diri.

Berpikir sempit (Polarized thinking) – Ini adalah pikiran hitam putih. Anda berpikir “ya atau tidak sama sekali” seperti “saya berhasil atau saya gagal”, tidak ada kategori sedang atau biasa, hanya ada kategori tinggi atau rendah. Contohnya sebagai berikut.

Anda sedang dalam proses melamar pekerjaan yang Anda inginkan. Semuanya berjalan baik-baik saja. Namun ada pikiran yang mengatakan bahwa jika Anda gagal untuk mendapatkan pekerjaan ini maka hidup Anda tidak akan bahagia selamanya. Anda tidak berpikir ada banyak kesempatan pekerjaan yang lain.Di pikiran Anda hanya ada pekerjaan ini atau tidak bekerja sama sekali.

Jika Anda mendapati pikiran seperti ini, maka Anda sebaiknya membuka pikiran Anda bahwa ada banyak pilihan dalam hidup ini. Tidak semuanya ekstrim, selalu ada yang pertengahan. Jika Anda merasa tidak berhasil bukan berarti Anda gagal, Anda mungkin cukup berhasil. Berilah kategori pertengahan pada penilaian Anda terhadap situasi yang Anda alami. Dalam kasus tadi, Anda bisa katakan pada diri Anda jika saya gagal saya akan mencoba melamar di perusahaan lain yang nyaris setara kualitasnya.

Saya berharap Anda bersedia mencari contoh yang sesuai dengan pengalaman pribadi Anda, sehingga Anda dapat lebih mengenal jenis-jenis kesalahan berpikir dan mampu mnegambil tindakan untuk memperbaikinya. Anda akan dapati jika Anda mampu mendeteksi kesalahan pikir dan mengubahnya, maka hidup Anda akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s