Mencintai

Banyak di antara kita yang menganggap berat kehidupan. Materi yang kurang, kesehatan yang buruk, beban kerja yang berlebih, tugas kuliah yang terus menerus. Orang kaya mengeluh atas apa yang dimiliki, orang miskin mengeluh atas apa yang tidak dimiliki. Beratnya beban pikiran mengakibatkan munculnya kebencian terhadap kehidupan. Dan kebencian inilah yang semakin memberatkan beban pikiran. Dunia terasa begitu sempit, di mana kesempitan itu menjadikan kita lebih mudah membesar-besarkan masalah. Akibatnya hidup menjadi semakin bertambah berat.

Bagaimana sempitnya hati dapat menjadikan beratnya hidup? Perhatikan analogi ini. Jika Anda sedang berada di dalam kamar mandi yang sempit, Anda bertemu kecoak kecil atau katak kecil saja sudah menjadi masalah untuk Anda. Namun ketika Anda berada di lapangan luas, jangankan kecoak atau katak, sekalipun ada kambing dan kerbau tidak akan mengganggu Anda. Karena sempitnya hati mengakibatkan kita membesar-besarkan masalah, maka ketenangan pun seakan jauh. Itu baru masalah kecil, bagaimana jika benar-benar masalah besar?

Awal dari hati yang sempit adalah kebencian. Dan kebencian itu tergambarkan dari perbuatan, juga perkataan yang dilakukan. Artinya emosi dan fisik saling berkaitan satu sama lain. Jika Anda memposisikan tubuh seperti orang yang benci, maka Anda akan dapati hati Anda akan membenci. Orang yang sedang membenci akan mengerutkan alisnya, memicingkan mata, mencemberutkan mulut, mengepalkan tangan, menegangkan otot bahu dan berkata kotor. Maka jika sekarang Anda memposisikan tubuh Anda seperti itu, besar kemungkinan Anda akan merasa jengkel dan benci, pada apapun.

Untungnya, Anda bisa melakukan hal yang sama untuk menumbuhkan cinta. Ubahlah posisi tubuh Anda seperti orang yang mencintai. Senyum yang merekah di bibir, otot-otot tubuh yang santai, badan yang tegap dengan langkah yang mantap. Lakukan itu, dan dunia Anda akan terasa lebih luas. Demikian juga dengan kata-kata. Mulut bagaikan moncong teko, ia hanya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Mulut itu muara hati. Mulut yang penuh dengan penghinaan menunjukkan hatinya yang terhina. Orang dengan hati yang bersih tidak akan mengeluarkan kata-kata kotor, karena memang tidak memiliki stok kata-kata kotor.

Menerima dengan sempurna sesuatu yang tidak sempurna, itulah cinta. Kehidupan ini mungkin jauh dari yang kita harapkan, tetapi kehidupan inilah yang kita miliki. Dan tidak sempurnanya kehidupan akan senantiasa mengingatkan bahwa kita belum berada di surga, sehingga kita tidak berharap banyak atas apa yang ada di dunia. Cintai kehidupan dengan menerimanya secara sempurna, bukan untuk terlena karenanya. Sementara itu, harapkanlah surga, di mana dijanjikan olehNya,

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (Q.S. As-Sajdah: 17).

Abu Hurairah berkata “dari Nabi saw., beliau bersabda: Allah berfirman: Aku sediakan untuk hamba-hamba- Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak terbesit dalam hati manusia. “ (HR. Muslim).

Itulah surga, tempat rehat dari segala penat. Tempat terpuaskannya hasrat atas segala nikmat. Itulah kehidupan yang hakiki, jauh melampaui kehidupan dunia yang tak pasti. Maka terimalah kehidupan dunia sebagai tanda cinta kepadaNya, dan berharaplah pada surga dengan segala janjiNya.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s