Memperbaiki Diri

Apakah Anda suka menduduki posisi tinggi? Apakah Anda suka unggul dengan berada di depan? Janganlah puas! Saya pribadi lebih memilih untuk berada di tempat yang naik daripada di tempat tinggi. Saya juga lebih memilih tempat yang maju daripada di depan. Karena setinggi apapun, jika ia diam, maka ia akan dilewati oleh mereka yang berjalan naik. Seberapa pun jarak ia yang di depan, jika ia diam, maka pada saatnya akan dilewati oleh mereka yang berjalan maju. Jadi inti dari pencapaian bukanlah posisi, tapi perubahan yang meningkat.

Saya akan ceritakan sebuah kisah yang akan menunjukkan kepada kita betapa seseorang dapat mengalami perubahan dalam hidupnya. Sebuah kisah mengenai orang yang memporakporandakan pasukan muslimin di Perang Uhud.

Setelah kegemilangan pasukan Islam di perang Badar, maka peperangan melawan kaum kafir Quraisy berlanjut di daerah Uhud, sebuah medan bergunung yang menjadi saksi syahidnya 70 penghafal Qur’an. Debu menghiasi pelataran berpasir saat gema takbir membahana, pasukan kafir mundur kocar-kacir meninggalkan hartanya, para pemanah muslim berhamburan turun untuk menyambut kemenangan. Namun, pada saat itulah seorang panglima Quraisy, Khalid bin Walid, memainkan strateginya. Ia bersama pasukan berkuda memutari gunung Uhud untuk menyerang kaum muslim dari belakang. Kemenangan pasukan Islam yang berada di depan mata pun sirna.

Waktu berlalu hingga hidayah itu datang, Khalid memutuskan untuk hijrah ke jalan Allah bersama Utsman bin Thalhah dan Amru bin ‘Ash. Suatu ketika Khalid ikut terjun ke medan pertempuran Mu’tah melawan 200 ribu tentara Romawi. Saat itu Khalid hanyalah prajurit biasa. Pasukan Muslim dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, yang kemudian syahid dan digantikan oleh Ja’far bin Abu Thalib. Ia juga syahid dan digantikan oleh Abdullah ibnu Rawahah.

Ketika ketiga panglima telah syahid, dengan cepat Tsabit bin Arqam meraih bendera pasukan dan diserahkannya kepada Khalid, “Ambillah bendera ini, wahai Abu Sulaiman”. “Tidak!” sahut Khalid,”Aku tidak akan mengambil bendera ini. Engkau lebih berhak memegangnya. Engkau lebih tua dan pernah ikut Perang Badar”. Namun pasukan Islam setuju dipimpin oleh Khalid. Hasilnya kaum Muslim berhasil lolos dari pengepungan pasukan Romawi. Maka Khalid bin Walid dikenal sebagai “Si Pedang Allah yang Terhunus”.

Seorang musuh Allah yang keji berubah menjadi tentara Allah yang pemberani. Itulah hasil dari perbaikan diri yang terus menerus, manusia yang salah tidaklah buruk saat ia mau mengambil kesempatan untuk memperbaiki diri. Manusia yang senantiasa memperbaiki diri adalah manusia yang beruntung, karena ia memiliki kualitas yang lebih tinggi dari hari ke hari.

Memperbaiki diri  tidak hanya dilakukan sekali, karena kesempatan yang datang juga tidak sekali. Beberapa orang berupaya memperbaiki diri, namun ketika tujuannya tetap tidak tercapai ia memutuskan untuk berhenti dan diam. Ingatlah bahwa kesuksesan tidak dinilai dari posisi, tapi dari perubahan yang meningkat. Anda tidak gagal selama Anda tetap mencoba dan berupaya.

Contoh yang bisa menggambarkan betapa seseorang yang tetap bergerak akan mendapatkan posisi yang lebih baik adalah seorang Presiden Amerika Serikat. Tahun 1831 usahanya bangkrut. Setahun kemudian ia kalah dalam pemilu lokal. Setahun berikutnya usaha yang sedang dirintis kembali bangkrut. Tahun 1835 istrinya meninggal dunia. Setahun berjalan, ia sempat menderita tekanan mental dan nyaris berakhir di rumah sakit jiwa. Tahun 1837 ia kalah dalam kontes pidato. Tiga tahun berikutnya ia gagal terpilih di senat. Tahun 1842, ia kalah di kongres, semikian pula enam tahun berikutnya. Tahun 1855, kembali gagal di senat. Setahun berikutnya ia kalah memperebutkan kursi wakil presiden. Tahun 1858 sekali lagi ia kalah di senat. Baru pada tahun 1860 ia menjadi presiden Amerika Serikat. Jika Anda berfikir untuk berhenti mencoba, ingatlah nama Abraham Lincoln.

Ada sebuah prinsip yang saya dapatkan dan saya pegang hingga saat ini. Prinsip ini saya peroleh dari perenungan setelah membaca beberapa biografi orang-orang yang mampu mengejar keberhasilan dengan menghargai kegagalan.  Satu kalimat sederhana: “Melangkahlah sekali lagi saat Anda berfikir untuk berhenti”. Prinsip ini akan membawa Anda untuk konsisten bertumbuh, konsisten untuk naik dan maju alih-alih berdiam di tempat tinggi atau di depan. Karena sekali lagi, inti dari pencapaian bukanlah posisi, tapi perubahan yang meningkat.

Saya menganggap tidak adil rasanya jika kita melihat kesuksesan dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Karena setiap manusia adalah unik. Masing-masing menempuh jalan kehidupan yang berbeda, memiliki garis start yang berbeda. Misal jika kita bicara soal harta, seseorang yang lahir dan diwarisi sepuluh juta, kemudian sekarang memiliki harta 12 juta. Kemudian kita bandingkan dengan seseorang yang lahir dan diwarisi surat hutang 5 juta dan kini tidak memiliki apa-apa. Apakah adil dikatakan bahwa orang dengan harta 12 juta lebih berhasil secara finansial diabanding orang kedua yang tidak punya apa-apa? Tentu tidak. Walaupun secara posisi terlihat demikian, sesungguhnya orang kedua memperlihatkan peningkatan yang lebih baik, yaitu 5 juta dibanding 2 juta. Dalam keadaan konstan, pada waktu tertentu keadaan kedua orang tersebut akan berbalik.

Saya bermaksud untuk menggaris bawahi bahwa jangan tentukan kesuksesan Anda dengan ukuran orang lain. Anda terlalu berharga untuk dibandingkan dengan orang lain. Ukurlah peningkatan yang Anda alami dari waktu ke waktu. Selama hari ini lebih baik dari kemarin, saya katakan Anda cukup berhasil. Terkadang kita membandingkan diri kita dengan orang lain. “Wah dia sudah bisa ke luar negeri, bisa beli mobil”. Lalu muncul pertanyaan yang menyakitkan, “kenapa saya tidak bisa seperti dia?”. Jika pertanyaan seperti itu muncul, maka saya sarankan Anda kembali bertanya kepada diri Anda, “Mengapa pula saya harus seperti dia?”. Anda adalah Anda dengan segala keberkahan yang menyertai Anda. Anda tak perlu menjadi sama dengan orang lain, cukuplah menjadi diri Anda yang lebih baik.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s