Matahari dan Rembulan

Perjuangan Rasulullah menegakkan kalimat tauhid di bumi Mekkah tak pernah surut dari cobaan dan godaan. Sebagaimana kaum kafir Quraisy mengutarakan niatnya kepada Abu Thalib, paman Rasul. “Keponakanmu mencaci sesembahan dan agama kami; Sekarang hukum dia atau biarkan kami yang lakukan”. Abu Thalib yang menyayangi keponakannya menceritakan niatan buruk tersebut agar Rasul menghentikan dakwahnya, “Jagalah dirimu dan diriku dan jangan membebaniku dengan sesuatu yang melebihi kemampuanku”. Dengan teguh hati Rasulullah menjawab, “Walaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku berpaling dari risalah yang aku bawa, aku tidak akan berhenti sampai Allah mengantarkan aku pada kejayaan Islam atau aku binasa karenanya.”

Martabat tidaklah terbeli oleh segunung emas, walaupun ditambahkan lagi tiga gunungan emas. Martabat merupakan kehormatan tertinggi yang diperjuangkan. Martabat sebagai prajurit Allah, martabat sebagai khalifah di bumi, martabat sebagai makhluk paling sempurna. Akankah derajat yang tinggi di pundak kita itu diruntuhkan oleh tingkah diri kita sendiri?

Sebagaimana pernah saya sampaikan, saya pernah menemui seorang buta yang tak menyerah pada kondisinya untuk menghadiri shalat berjamaah. Saya pernah menemui seorang kakek tua yang tak mau menengadahkan tangan untuk meminta sementara ia mampu bertahan dalam panas terik dan deras hujan untuk mencari nafkah dengan menambal ban. Perhatikan sekitar Anda, ada banyak manusia yang punya cukup alasan untuk berdiam diri, namun mereka tetap melangkah. Bagi mereka, No Excuse! Tidak ada alasan untuk menodai harga diri dengan meminta-minta, tidak ada alsan untuk menodai harga diri dengan berdiam tanpa usaha.

Bukankah Umar bin Khatab pernah menegur seorang sehat yang hanya berdoa sepanjang hari di tepi ka’bah, “Wahai Tuhanku berilah aku rezeki harta”, Umar pun angkat suara, “Wahai pemuda, janganlah sekali-kali kamu hanya pandai menengadahkan tangan, meminta-minta diturunkan rezeki harta. Kamu harus tahu, semenjak langit berkembang, Allah tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak. Gerakkan tanganmu! Allah akan memberimu rezeki.”

Keunggulan manusia sebagai makhluk paling sempurna sesungguhnya tiada terkira. Namun banyak di antara mereka yang potensinya tertidur, atau bahkan sengaja dikubur. Mereka mencari alasan untuk membenarkan tindakan penindasan terhadap harga dirinya sendiri.

Merasa tidak berhak atas kehidupan yang baik adalah penindasan terhadap martabat. Menjadikan latar belakang kehidupan sebagai alasan, “saya anak miskin”, “saya tidak sekolah”, “saya tidak punya keahlian apapun”, “saya hanya tergantung pada belas kasihan orang lain”. Itu memang kenyataan, tapi bukan alasan! Apakah merupakan kepastian bahwa kemiskinan dan tidak adanya ijazah pendidikan berujung pada ketidakmampuan untuk berusaha? Lalu bagaimana dengan keberhasilan Soichiro Honda, pemilik produsen otomotif raksasa asal jepang?

Honda lahir dan dibesarkan dalam keluarga miskin di kota kecil, Iwatagun. Bahkan dari sembilan bersaudara hanya empat yang berhasil mencapai dewasa, sisanya meninggal dunia semasa kanak-kanak karena kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh. Honda hanya mengenyam pendidikan formal selama 10 tahun, selebihnya ia gunakan untuk magang di bengkel di Tokyo sekaligus sebagai kacung (pembantu kasar). Namun dengan ketekunannya, Honda merintis usaha sendiri dan berhasil memegang hak paten lebih dari 100 penemuan pribadi. Hingga kini namanya terabadikan pada jutaan mobil dan sepeda motor yang melintasi jalanan di seluruh dunia.

Tidak ada alasan memandang rendah diri Anda. Sekalipun karya Anda dipandang rendah, tetapi diri Anda adalah tinggi. Sama derajatnya sebagai manusia, siapapun dia, sebagai makhluk paling sempurna. Selama diri ini mampu merasakan teriknya matahari dan terangnya rembulan, maka martabat sebagai hambaNya masih terjaga. Jikalau pelindung Anda adalah Sang Maha Perkasa maka siapa di dunia ini yang mampu merendahkan Anda? Bangkit dan berkaryalah!

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s