Kecerdasan Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Secara sederhana, emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Contohnya, saat mengalami peristiwa yang membahagiakan maka kita akan tergerak untuk tertawa,  sebaliknya jika kesedian menimpa maka kita akan menangis sebagai wujud rasa berduka.

Kecerdasan emosi menjadi begitu populer setelah Daniel Goleman membahasnya dengan istilah Emotional Quotions (EQ) pada tahun 1995. Goleman dan beberapa peneliti lain mengklaim bahwa kesuksesan seseorang dalam berbagai bidang lebih dipengaruhi oleh EQ daripada IQ (kecerdasan intelektual). Hal tersebut dikarenakan seseorang dengan EQ yang tinggi mampu mengelola emosi diri sendiri dan bahkan orang lain, sehingga ia akan tetap mampu melakukan apa yang dianggap nyaris mustahil dalam pikirannya.

Ketika Anda dihina, dicaci maki dengan kerasnya, diusir keberadaannya, dan bahkan dilukai secara nyata, adalah nyaris mustahil dan diluar nalar untuk tetap bersikap tenang, apalagi malah membalas dengan kebaikan. Namun seseorang dengan kecerdasan emosi yang tinggi akan mampu menembus nalar itu, ialah Muhammad Rasulullah. Saat beliau memulai dakwahnya di Tha’if, perlakuan kasar secara fisik dan verbal diterima, pengusiran terhadap beliau dilakukan, beliau pun meninggalkan Tha’if. Perlakuan yang diterima Rasulullah di Thaif membuat jengkel malaikat gunung, yang menawarkan untuk meratakan Tha’if  dengan gunung. Namun Rasulullah menolaknya, bahkan beliau mendo’akan warga Tha’if bahwa kelak dari mereka akan lahir keturunan-keturunan yang menegakkan kalimat la ilaha ilallah.

Pengendalian emosi dapat berupa dua hal, yaitu menahan emosi tertentu agar tidak muncul dan memunculkan emosi lain yang lebih sesuai dengan keadaan. Misalnya jika Anda dihina, maka Anda bisa marah, tetapi dengan kecerdasan emosi yang baik, Anda bisa menahan emosi marah Anda dan menggantinya dengan motivasi dan tekad untuk membuktikan bahwa Anda tidak layak dihina oleh siapapun. Berikut saya sampaikan sebuah cerita nyata yang menunjukkan hebatnya kekuatan kecerdasan emosi.

Kisah ini terjadi di Arab Saudi, tepatnya di perusahaan pertambangan minyak pada akhir tahun 40-an. Keringnya lingkungan membuat siapa saja merasa haus, tak terkecuali seorang remaja lokal yang menjadi pegawai rendahan di perusahaan itu. Ia bergegas mencari air untuk menghilangkan rasa haus yang sangat. Raut mukanya berubah ceria saat ia melihat air dingin, dengan segera ia mengisi gelasnya dengan air itu.

Tiba-tiba sebuah kata-kata keras terdengar oleh telinganya, persis sebelum remaja itu menenggak air ke mulutnya. “Hei, pekerja rendahan. Kamu dilarang minum air itu. Air itu hanya boleh untuk insinyur!!” Asal suara itu dari mulut seorang insinyur Amerika.

Remaja itu tertegun, sebentar pikirannya teralihkan dari rasa haus yang sangat. Ia tahu ia lulusan SD dan tahfidz Qur’an, bukan insinyur. Hal itu membuatnya tidak berharga di sebuah perusahaan yang dikuasai manajemen Amerika. Sekarang ia tahu bahwa untuk meminum segelas air, ia haruslah insinyur.

Bukan rasa marah, bukan pula rasa sedih yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia tertantang oleh hinaan yang diterimanya. Remaja itu bekerja keras di siang harinya untuk membiayai sekolah malam yang ia ikuti, tenaga dan pikiran ia peras untuk menjaga komitmen dalam dirinya. Ia lulus SMA, bahkan karena prestasi kerjanya,  perusahaan mengirimnya kuliah di Amerika  untuk teknik dan master untuk geologi. Gelar insinyur telah berada di tangannya, ia kembali pulang dan melanjutkan kariernya dengan hak meminum air yang dulu terlarang baginya. Bahkan kariernya terus melesat hingga mencapai puncaknya sebagai wakil direktur di perusahaan itu, Aramco (Arabian American Oil Company), perusahaan minyak terbesar di dunia.

Sebuah hinaan bisa mengubah seorang remaja rendahan menjadi wakil direktur. Hal ini hanya terjadi kepada ia yang memiliki kecerdasan emosi tinggi, seperti remaja itu, Ali bin Ibrahim Al-Naimi, yang sejak tahun 1995 ditunjuk oleh Raja Arab Saudi sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral di negaranya. Kisah ini menjadi bukti sebuah ungkapan populer di dunia kerja: because of IQ you’re hired, but with EQ you’re promoted.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s