Jargon Kebermanfaatan

Hampir tiga tahun saya menimba ilmu kehidupan di Psychology’s Creative Home of Edutainment (PsyCHE), sebuah organisasi yang kami (berdelapan orang mahasiswa) bangun sebagai wadah pembelajaran untuk membentuk diri sebagai virus kebaikan yang menyebarkan motivasi dan inspirasi kepada siapapun. Berbagai kegiatan telah kami lalui dari pengisi training indoor maupun outbond tingkat sekolah hingga universitas, juga sebagai penyelenggara (organizer) seminar tingkat nasional. Sampai suatu ketika, tiba saatnya kami membekukan organisasi tersebut karena telah menyelesaikan status kami sebagai mahasiswa dan menapaki fase hidup selanjutnya di dunia kerja.

Saya sendiri merasa bahwa dalam dunia kerja yang saya tekuni selama hampir satu tahun, tidak ada kesempatan bagi saya untuk mengaplikasikan ilmu pengembangan diri yang telah saya serap di PsyCHE. Lambat laun saya merasa kehilangan kemampuan itu dan menganggap diri sendiri sebagai tempat sampah yang menerima berbagai ilmu dan keterampilan tetapi membiarkannya membusuk tanpa diolah. Berdasarkan pengalaman itu saya akhirnya menyadari konsep reseptif dan ekspresif.

Kehidupan haruslah seimbang. Saya contohkan, mohon maaf, seperti orang yang selalu mengasup makanan tanpa buang air besar. Tentu akibat buruk yang diperoleh. Dalam analogi itu, mengasup makanan adalah upaya reseptif, yaitu mengambil dan menyerap sesuatu ke dalam diri kita. Sedangkan buang air besar adalah upaya ekspresif, yaitu mengeluarkan segala sesuatu yang telah kita serap. Tentu itu hanyalah analogi asal saja. Dalam konteks sebenarnya, upaya reseptif bisa dicerminkan dalam kegiatan membaca, mendengarkan seminar, dan hal lain yang memperluas pengetahuan. Sementara itu, upaya reflektif adalah menciptakan karya dari berbagai ilmu pengetahuan yang telah kita serap, seperti menulis, merakit robot, dan hal hal berguna lain yang nyata manfaatnya.

Sehingga apabila Anda banyak sekali belajar tanpa menelurkan suatu karya, tentu Anda akan merasa sakit perut jika dianalogikan dengan asupan makanan seperti tadi. Oleh karena itu, jika Anda sudah menerapkan jargon “Never Ending Learning” itu saja belum cukup. Karena jargon itu hanya akan membuat Anda, maaf, sembelit, mengingat belum adanya upaya ekspresif sebagai wujud pengolahan hasil belajar menjadi karya nyata yang berharga.

Menyadari hal itu, bahwa saya merasa sembelit, maka saya dan beberapa rekan kembali menghidupakan lembaga pengembangan diri sebagai upaya ekspresif. Lembaga itu kini telah berdiri, mengusung nama ASA Center dengan jargon yang lebih lengkap, yaitu 3B : ”Belajar, Berkarya, Bermakna”. Filosofi yang kami emban adalah kebermanfaatan.

Setiap manusia hadir di dunia tanpa dapat berfikir untuk  berbuat sesuatu. Seiring waktu, beberapa manusia mampu memberi arti kehadirannya di dunia, sementara sebagian manusia lainnya tetap membiarkan potensinya tak tersentuh oleh karya nyata.  Manusia yang keberadaannya terasa adalah mereka yang mempunyai kemampuan dan menggunakannya untuk kebermanfaatan. Tidak akan ada kemampuan tanpa belajar. Mereka yang mampu tidak berarti apa-apa tanpa mengkaryakan kemampuannya. Namun, karya tanpa guna dalam kemaslahatan bersama tidaklah berbeda antara ada dan tiadanya.

Kita perlu memunculkan kenikmatan dalam Belajar untuk memiliki kemampuan terbaik sebagai  bekal dalam Berkarya. Karya tanpa guna bagi masyarakat tidaklah bermanfaat, maka ciptakanlah karya yang memberdayakan agar dapat Bermakna bagi manusia dan alam seluas-luasnya. Itulah prinsip 3B : “Belajar, Berkarya, Bermakna”. Sebenarnya kita juga dapati prinsip yang serupa dalam jargon “berilmu amaliah, beramal ilmiah”, bahwa upaya reseptif (mencari ilmu) dan ekspresif (memberi amal berdasar ilmu) haruslah lekat bagai dua sisi mata uang.

Ingatlah, Rasulullah saw pernah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama

Siapa yang tak kenal sosoknya? Seseorang yang saat itu mengganggu ketenangan Kota Madinah. Ia membuat debu tebal terangkat hingga menutupi angkasa karena rombongan unta yang dibawanya. Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasul tercinta, membawa 700 ekor unta penuh dengan barang dagangan berbagai rupa. Lalu ia bagikan semua itu kepada warga Madinah tanpa tersisa. Itulah bentuk kesadaran atas mulianya pribadi penebar manfaat, sehingga Abdurrahman bin Auf dijanjikan Rasul akan merangkak mamasuki surga. Subhanallah.

Berapa banyak manusia yang dianugerahi ilmu dalam mengejar dunia, lalu mereka terperangkap di dalamnya. Mereka timbun semua harta seakan akan kekal selamanya. Mereka kaya, tapi tak berguna. Lalu apa pula makna hidupnya, mungkin dunia lebih baik tanpa mereka. Mungkinkah mereka itu adalah kita?

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s