Hadapi Masalah

Setiap manusia punya masalah. Ada yang memang memiliki masalah berat dan ada pula yang memberat-beratkan masalah. Sebagian besar orang menolak untuk memiliki masalah. Saya pun awalnya demikian, hingga saya mencoba mengubah sudut pandang. Ingatlah prinsip mengubah fokus. Jika di depan Anda ada sekuntum melati yang subur karena pupuk kandang, maka ke mana fokus Anda diarahkan akan memicu hasil yang berbeda. Fokus kepada melati akan mendatangkan keindahan, sedangkan fokus pada pupuk kandang akan menghilangkan keindahan.

Demikian pula dengan masalah yang kita hadapi. Masalah itu memberikan beban sehingga kita enggan menerimanya. Artinya kita berfokus kepada pupuk kandang. Mari kita ubah fokus kita kepada melati. Pertama, sadarilah bahwa masalah itu hal biasa. Hidup Anda menjadi begitu berwarna dan menarik untuk diceritakan karena masalah yang Anda dapatkan dan hadapi. Hidup bagaikan sebuah film, dan Anda adalah aktor utamanya. Film tanpa konflik akan begitu membosankan. Padahal film Anda akan diputar ketika semua manusia berkumpul di padang mahsyar, menantikan kemana mereka akan menghabiskan waktunya dalam kekekalan: surga atau neraka.

Setiap orang memiliki masalah, bahkan yang kita anggap tidak bermasalah sekalipun. Ingat konsep sawang-sinawang: Bahwa Anda menganggap orang lain punya kehidupan yang lebih baik, padahal orang yang Anda lihat itu melihat kehidupan Anda lah yang lebih baik. Anda melihat orang lain tidak bermasalah, padahal orang yang Anda lihat justru memandang Anda lah yang bebas masalah. Orang miskin bingung apa yang dimakan (karena tidak ada pilihan), orang kaya bingung mau makan apa (karena banyaknya pilihan). Laki-laki bingung mau menikah dengan siapa (karena selalu ditolak), wanita bingung siapa yang menikahi (karena tak ada yang datang melamar). Artinya selama manusia masih menghembuskan nafas maka masalah akan selalu ada.

Prinsipnya adalah perhatikan bukan tentang apa yang terjadi pada Anda, tetapi pada bagaimana Anda menghadapinya. Bagaikan kapal layar di samudra luas, Anda tidak bisa mengatur kemana angin akan berhembus, tetapi Anda bisa mengatur kemana layar harus dikembangkan. Bahkan, tanpa angin kapal Anda tidak akan bisa bergerak ke manapun. Setelah Anda memahami bahwa masalah itu biasa, maka terima dan hadapilah. Banyak orang yang tidak menerima bahwa dirinya bermasalah. Orang itu lupa bahwa kualitas kehidupan manusia ditentukan oleh kualitas masalah yang dihadapinya. Ingat firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya … (Q.S. Al-Baqarah: 286).

Semakin berat beban yang diembankan berarti sesungguhnya ia dianggap mampu mengatasinya. Orang yang tidak diuji justru akan dipertanyakan kualitasnya. Bertanyalah kepada orang-orang terpandang, sesungguhnya mereka telah berhasil menghadapi masalah-masalahnya yang besar. Contoh paling jelas adalah Rasulullah. Apakah beliau bebas dari masalah? Sebaliknya, masalah yang diemban beliau sangatlah berat. Namun karena itulah, kemuliaan beliau justru terpancar. Oleh karena itu, masalah itu biasa dan perlu dihadapi untuk meningkatkan kualitas pribadi kita.

Perumpamaannya seperti ini. Seekor keledai tua yang terperosok ke dalam lubang. Petani pemilik keledai itu berusaha mengeluarkannya tetapi upayanya tidak membuahkan hasil. Mengingat keledai itu sudah tua dan sepertinya tidak ada harapan untuk diselamatkan maka petani itu memutuskan untuk mengubur sekalian keledai itu. Diambilnya cangkul dan diseroknya tanah untuk menimbun sang keladai. Setiap kali petani melempar tanah ke tubuh keledai, sang keledai mengibaskan tubuhnya hingga tanah itu jatuh ke kakinya. Keledai itu kemudian berpijak ke tanah baru itu. Demikian seterusnya, sehingga setiap kali petani melempar tanah, justru keledai semakin terangkat posisinya. Hingga keledai itu bisa melompat kembali keluar dari lubang.

Ya terkadang kita terlempar tanah (masalah). Namun yang harus kita lakukan adalah mengibaskan tubuh (menghadapinya hingga berlalu). Maka tanah (masalah) itu akan meningkatkan posisi (kualitas kehidupan) kita.

Katakan pada diri Anda, “Masalah, silakan engkau datang jika harus demikian, karena saya siap menaikkan kualitas saya!!”

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s