Berprasangka Baik

Manusia seringkali punya keinginan yang mulur (elastis memanjang). Manusia menginginkan sepeda kayuh, setelah didapatkan maka ia akan bahagia. Namun hanya sebentar, karena setelah itu keinginannya akan mulur menjadi sepeda motor. Setelah sepeda motor berhasil dimiliki, ia akan bahagia sementara sampai keinginannya mulur menjadi mobil. Begitu seterusnya hingga tersisa angan-angan yang tak tercapai.

Manusia melihat dan berharap segala sesuatu yang tidak ia miliki, bahkan cenderung melupakan apa yang selama ini ia miliki. Tabiat orang yang kurang bersyukur adalah susah ingat kenikmatan dan tidak pernah lupa penderitaan. Padahal Allah senantiasa mengingatkan manusia,

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahmaan: 13)

Marilah kita bercermin sementara, perhatikan diri Anda seutuhnya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Semuanya sempurna. Pernahkan Anda bayangkan bagaimana seandainya susunan anatomi tubuh kita tidak seperti ini? Maksud saya bagaimana jika jari tangan kita bertumbuh seperti kukunya, atau bagaimana jika gigi terus bertumbuh tanpa berhenti, atau bagaimana jika tangan dan kaki bertukar posisi. Bukankah itu semua bukti bahwa diri kita telah diciptakan dengan ukuran-ukuran tertentu.

Lalu mari kita perhatikan sekitar, udara yang tak tampak sering kali kita lupakan. Cobalah hirup udara itu dalam-dalam, rasakan betapa nikmatnya. Sayur dan buah yang dihamparkan, gunung-gunung yang ditinggikan, awan yang memayungi manusia dari dahsyatnya energi sang surya. Manusia melupakan apa yang ia punya dan apa yang telah ada di sekitarnya hanya karena sibuk mendapatkan apa yang ia tak punya dan mengejar apa yang jauh dari dirinya.

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar-Rahmaan: 13)

Apakah Anda akan tukarkan mata Anda dengan rupiah? Atau telinga Anda dengan dollar? Ataukah otak Anda dengan kilauan emas batangan? Kita berada dalam lautan kenikmatan, tapi kita sering merasa di padang gersang kesengsaraan.  Ada sebuah kisah yang saya rasa bisa menggambarkan kondisi manusia.

Suatu ketika ada seorang anak bersama ayahnya bermain di dekat sungai. Mereka berbincang-bincang. “Lihatlah anakku, air adalah benda yang sangat berharga bagi kehidupan. Tanpa air, tak akan ada kehidupan“. Perkataan itu terdengar oleh seekor ikan kecil. Ia bingung, benda macam apakah air itu? Ia berenang kesana-kemari mencari air. Menyusuri dari hulu hingga hilir sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya. “Di manakah air berada? Kata manusia, tanpa air tak akan ada kehidupan”. Namun, tak satu ikan pun yang ia temui dapat memberi jawaban di mana air itu berada.

Akhirnya ia bertemu dengan seekor ikan yang telah tua. Ikan kecil ini mengungkapkan pertanyaan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan tersebut, ikan tua tertawa seraya berujar, “Tak usahlah kau bimbang wahai anakku. Apa yang kau cari berada di sekelilingmu. Kau berada di dalam air dan memang benar, tanpa air tak akan ada kehidupan.“

Ya, kadangkala manusia seperti ikan kecil pada kisah di atas. Manusia sibuk mencari kenikmatan hidup yang sebenarnya telah mereka miliki dalam diri dan lingkungannya. Mereka sibuk mencari dan lupa menikmati. Mereka mungkin berjuang dengan keras melawan persaingan duniawi, hingga pada saat mereka lelah. Mereka akan kembali merindukan nikmatnya basuhan air wudhu dan ketenangan dalam rakaat-rakaat yang indah.

Ibnu Mas’ud pernah berpesan, “Carilah hatimu di tiga tempat (yaitu): saat mendengar Al-Qur’an, saat berada di majelis dzikir dan saat-saat menyendiri. Bila engkau tidak mendapatinya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia menganugerahkan hati (yang baru) kepadamu, karena sesungguhnya engkau sudah tidak lagi memiliki hati.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s