Bergeraklah

Apa yang akan terjadi jika ikan berdiam diri? Bagaimana jika jantung berhenti? Bayangkan bumi tak lagi berotasi. Kebanyakan kita merasa begitu senang menikmati empuknya kasur, hangatnya selimut dan kemudian tertidur. Dalam diam kita merasa terbebas dari masalah, dalam diam kita merasa tenang dan damai, tanpa resiko. Namun sesungguhnya, diam karena menghindari resiko adalah diam karena bosan hidup. Hidup adalah bergerak, jika ikan berdiam diri maka ia akan mati, jika jantung berhenti maka kita akan mati, jika bumi dan alam semesta tak bergerak maka tak ada kehidupan lagi, kiamat terjadi. 

Saya teringat akan sebuah kisah yang membuat saya tak lagi mau berdiam diri. Kisah seorang wanita.

Wanita ini lahir pada tanggal 27 Juni 1880 di sebuah rumah di daerah Alabama, Amerika Serikat. Waktu berjalan dengan menyenangkan baginya hingga 19 bulan setelah kelahirannya, ia terserang demam dan panas yang sangat tinggi, hingga ajal seakan tinggal sejengkal. Namun, kehidupan ternyata masih bersedia mendampinginya. Gadis kecil itu sehat kembali. Namun kehidupannya berubah, baginya dunia menjadi gelap dan sunyi. Ia, gadis kecil itu, mengalami kerusakan mata dan telinganya sekaligus. Tanpa pendengaran, ia tak bisa pula berbicara. Ia buta dan tuli sekaligus bisu.

Apa yang akan Anda lakukan jika tiba-tiba dunia menjadi hitam pekat? Tak ada lagi wajah-wajah orang yang Anda cintai, tak ada lagi buku dan novel untuk dinikmati, tak ada lagi cahaya mentari, hanya menyisakan gelap setiap hari.

Apa yang akan Anda lakukan jika tiba-tiba kehidupan menjadi sunyi? Tak ada suara tawa teman-teman yang ceria, berita-berita gembira, omelan keluarga dan tetangga, celotehan adik kecil Anda. Dunia ini hanya menyisakan hampa.

Apa yang akan Anda lakukan jika tiba-tiba tak ada lagi suara yang keluar dari mulut Anda? Bagaimana Anda akan mengatakan terima kasih, bagaimana dengan ucapan maaf atas kesalahan Anda. Bagaimana rasanya jika Anda menginginkan roti karena lapar tapi tak bisa memintanya. Apa lagi yang tersisa dalam kehidupan Anda?

Lalu, apa yang akan Anda lakukan jika harus mengalami ketiganya sekaligus? Meratapi hidup berhari-hari, atau Anda bisa menjadi wanita ini… Helen Adam Keller.

Helen hanya mampu menggunakan dua indra yang tersisa. Ia bisa mengenali ibunya dengan meraba pakaiannya, ia merasakan suasana luar rumah dari aroma tanaman di sekitarnya. Namun tetap saja, ia tak mampu mengatakan apa yang ada di benaknya, semuanya tertahan. Ia ingin orang lain tahu apa yang ia rasa, tapi tak bisa. Ia tak mampu.

Pada tahun 1887, saat Helen berusia tujuh tahun, datanglah seorang guru wanita bernama Anne Sullivan. Guru yang sabar dan tegas itu mulai mengajari Helen alphabet melalui tangannya. Anne mengajari Helen memahami bahwa semua benda di dunia ini punya nama. Helen bangkit, ia mempelajari huruf Braille dan Tadoma yang sulit, yaitu kemampuan membaca bibir seseorang dengan menyentuhnya.

Helen mulai memasuki sekolah formal untuk kaum buta dan tuli. Ditemani Anne yang selalu mendukungnya, Helen berjuang untuk dapat berbicara semampunya. Waktu terus berjalan seiring perjuangan Helen untuk tetap bergerak menapaki kehidupan. Ia dapat membaca buku dalam bahasa Inggris, Latin, Perancis, Jerman, dan Yunani. Ia lulus dengan predikat sangat memuaskan dari Raddiffe College dalam empat tahun.

Saat kuliah itulah, Helen menuliskan perjuangan hidupnya dalam buku “The Story of My Life” yang kini telah diterjemahkan dalam lima puluh bahasa di seluruh dunia. Kehidupan selanjutnya ia tapaki sebagai penulis, pembicara dan dosen yang begitu menginspirasi dengan berbagai penghargaan bergengsi.

Pada tanggal 1 Juni 1968, Helen Adams Keller mengakhiri perjalanan hidupnya di usia 88 tahun. Kata –katanya yang membekas adalah:

Saya hanyalah satu, saya satu. Saya tidak dapat melakukan semuanya, tetapi saya masih dapat melakukan sesuatu. Dan karena saya tidak dapat melakukan semuanya, saya tidak akan menolak sesuatu yang dapat saya lakukan.”

Janganlah menundukkan kepalamu, tegakkanlah!. Pandanglah dunia tepat di wajahnya!”

Banyak kemungkinan untuk dilakukan dalam kegelapan dan kesunyian yang ia rasakan. Helen Keller memutuskan untuk tetap bergerak menjalani kehidupan, mengasah kemampuan yang masih ia miliki tanpa mempersoalkan sesuatu yang tak ia miliki. Dunia menyambutnya sebagai sosok yang mengaggumkan. Seseorang yang tetap berlari walau memiliki cukup alasan untuk berhenti.

Keep Progresive..

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s