Bebaskan Pikiran

Mungkin Anda sudah tahu salah satu teknik yang digunakan untuk menjinakkan gajah liar. Pertama, gajah liar itu ditangkap, biasanya dengan dibius. Setelah itu kaki gajah itu diberi rantai yang sangat besar dan kuat. Rantai itu diikatkan pada penopang yang kokoh. Setelah gajah itu sadar, ia akan mencoba kabur. Namun rantai besar itu mengikatnya sehingga gajah itu terjatuh. Selama diikat, gajah itu dirawat dengan diberikan makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap kali gajah itu mencoba kabur, ia akan terjatuh karena rantai yang mengikat kakinya. Setiap kali gajah itu tenang, maka makanan akan diberikan kepadanya. Apa yang terjadi pada sebulan berikutnya?

Sekalipun rantai telah dilepas, gajah itu enggan kabur dari tempatnya berada. Kenapa? Karena ia masih berpikir bahwa rantai itu tetap melekat di kakinya, sehingga jika ia kabur maka ia hanya akan terjatuh. Lagipula kenapa harus kabur jika kebutuhannya tercukupi. Gajah itu akhirnya hanya berkutat di zona nyaman.

Demikian pula dengan kita, bisa jadi keengganan kita untuk bertindak dikarenakan adanya rantai gajah di dalam pikiran kita. Rantai itu berupa kenangan atas ketidakberhasilan masa lalu, perasaan nyaman yang berlebihan, anggapan negatif terhadap diri sendiri (pendidikan rendah, berasal dari keluarga miskin, tidak punya keahlian, dan lain-lain). Padahal, sebenarnya rantai gajah itu tidak ada, namun kita tetap merasa memilikinya. Tentu hal itu disebabkan pikiran kita masih dirantai oleh anggapan yang salah.

Takut mengulangi kegagalan yang lampau berarti takut untuk kembali beraksi. Tidak beraksi berarti menolak mencapai tujuan. Artinya Anda telah menciptakan kegagalan bahkan tanpa berusaha. Sebenarnya kegagalan yang lampau hanya akan terjadi kembali jika Anda mengulangi prosedur yang sama dengan apa yang Anda lakukan saat itu. Ibaratnya, Anda terperosok ke dalam lubang di jalan A. Maka untuk bisa terperosok kembali, Anda harus melalui lagi jalan A dan melangkah dengan pijakan yang sama persis dengan pijakan Anda saat itu. Anda tidak akan masuk ke lubang itu jika Anda tidak melalui jalan A. Bahkan jika Anda tetap melalui jalan A, Anda tidak akan masuk di libang itu jika Anda mengubah pijakan langkah Anda: tepat sebelum lubang itu, melangkah lah ke samping – bisa kanan atau kiri – maka kaki Anda tidak akan terperosok.

Jadi Anda perlu mengetahui posisi lubang itu, dalam hal ini, Anda perlu tahu kondisi apa yang menyebabkan kegagalan Anda saat itu. Maka lakukan lagi dengan cara yang berbeda. Sekalipun Anda kembali terperosok ke dalam lubang, maka itu bukanlah lubang yang sama. Semakin banyak lubang yang Anda ketahui, semakin ahli Anda dalam menapaki wilayah Anda. Seperti pengendara motor yang hapal setiap lubang di jalan, ia dapat mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tanpa celaka. Thomas Alfa Edison menemukan bola lampu yang dapat berpijar setelah sebelumnya mencoba selama setidaknya 1000 kali. Edison terperosok ke dalam 1000 lubang yang berbeda, tetapi itu membuatnya ahli dalam bidang kerjanya, karena akhirnya ia tahu mana jalan yang berlubang dan jalan yang mulus. Kegagalan masa lampau sebenarnya membimbing kita untuk beraksi lagi dengan cara yang berbeda.

Dengan rumus yang sama, maka Anda bisa mengikuti keberhasilan orang lain. Anda hanya tinggal mengetahui jalan mana yang ia (orag yang ingin Anda tiru keberhasilannya) tempuh. Tempuhlah jalan yang sama, dengan pijakan langkah yang sama maka Anda, insya Allah akan mendapat keberhasilan yang sama. Jika Anda ingin masuk surga, tiru saja apa yang ahli surga lakukan. Rasulullah dijamin masuk surga, maka ikuti jejak langkah beliau, jangan dikurangi karena Anda tidak akan sampai tujuan, dan tak perlu ditambahi karena Anda bisa terperosok ke jurang. Lakukan saja persis sama, insya Allah hasilnya serupa.

Rantai kedua yang membelenggu aksi kita adalah zona nyaman. Singa yang dibesarkan di kebun binatang, lengkap dengan perawatan dan fasilitasnya akan menjadi manja, jinak, dan lemah. Ia akan menjadi tergantung dengan kenyamanan yang diperoleh, hingga pada suatu ketika jika ia dikembalikan ke habitat aslinya bertahan hidup akan sangat sulit dilakukannya.

Demikian pula manusia yang hidup tanpa gerak, dengan nyaman tidur, makan, dan bersantai. Tubuhnya akan rentan dan lemah, bahkan kolesterol tumbuh subur. Ia akan sulit bertahan dalam keadaan darurat. Anda mungkin masih ingat cerita saya mengenai hiu-hiu kecil yang dilepas nelayan Jepang untuk membuat ikan tangkapannya tetap segar. Ikan yang hanya berdiam di dalam air rupanya tidak baik secara kualitas. Demikian pula manusia yang kurang mendapat ancaman cenderung menjadi tergantung dengan kenyamanan.

Seorang teman saya yang menjadi pengajar sekolah dasar bercerita kepada saya, ia kini mengajar di sekolah elit di kota besar setelah sebelumnya sempat mengajar di kawasan pedalaman. Di sekolah elit tempat ia mengajar ini, seorang siswa pernah menangis histeris hanya karena jari telunjuknya tergores sedikit. Sementara dulu, saat mengajar di pedalaman, seorang siswanya dengan bangga menunjukkan bekas luka golok. Siswa di sekolah elit, sulit diajak beraktivitas berat dan mudah mengeluh capek. Sementara di pedalaman, teman guru saya malah ditantang naik gunung.

Terkadang kita perlu mencari tantangan-tantangan untuk menumbuhkan mental pejuang. Bukankah Allah lebih menyukai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah walaupun pada keduanya sama-sama terdapat kebaikan? Lalu mari kuatkan diri. Resiko bukan sesuatu yang dihindari untuk selamanya. Resiko adalah kesempatan kita untuk bertumbuh. What doesn’t kill you makes you stronger. Orang-orang besar selalu menantang resiko. Kadang kita melihat kenikmatan mereka saat ini, padahal mereka telah berpeluh basah di masa lalu untuk menjadi seperti saat ini. Pedoman dalam menilai orang sukses adalah: Don’t see what they do, see what they’ve done. Jangan lihat apa yang kini mereka kerjakan, tapi lihatlah apa yang telah mereka selesaikan. Orang yang tangguh terhadap tantangan tidak akan takut keluar dari zona nyaman karena mereka yakin bisa mendapatkan kembali zona nyaman itu kapan saja.

Abdurrahman bin Auf merupakan sahabat rasulullah yang berpredikat sebagai orang terkaya di Mekkah. Saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf hendak menyusul rasul namun dihalangi oleh kaum kafir Quraisy. Abdurrahman bin Auf diminta memilih: jika hendak hijrah maka ia harus meninggalkan semua harta kekayaannya di Mekkah, jika tetap ingin bersama hartanya maka ia dilarang hijrah. Manusia yang terperangkap dalam  zona nyaman akan takut meninggalkan segala fasilitasyang ia miliki untuk memulai semuanya dari titik nol. Namun tidak bagi Abdurrahman bin Auf, ia memilih untuk berhijrah dan meninggalkan semua kekayaannya.

Di Madinah Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’d bin Rabi yang merupakan orang terkaya di Madinah. Sa’d berkata kepadanya “Saudaraku ambillah separuh hartaku yang kau suka. Aku juga memiliki dua istri, Pilih yang kau suka dan nikahilah.” Apayang akan dilakukan oleh manusia yang terperangkap dalam zona nyaman? Pastilah ini bagaikan karunia yang sangat besar. Namun apa kata Abdurrahman bin Auf? “Semoga Allah melimpahkan berkahNya padamu, juga kepada keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja arah pasar.” Lalu sejak itu Abdurrahman bin Auf kembali menjadi kaya raya. Saya tidak menekankan perolehan kekayaan, saya menegaskan bahwa seseorang yang berani meninggalkan zona nyaman akan selalu mampu mengatasi segala keadaan.

Lalu bagaimana dengan rantai gajah berupa anggapan rendah diri seperti pendidikan rendah, berasal dari keluarga miskin, tidak punya keahlian, dan lain-lain? Kondisi-kondisi itu adalah kenyataan tapi bukan hambatan. Pertanyaan saya, adakah orang yang tidak berpendidikan, miskin, dan kurang berpendidikan namun bisa sukses mendapatkan impiannya? Anda perlu membaca kisah Soichiro Honda, pemilik produsen otomotif raksasa asal jepang, Honda Motor. Atau Anda bisa mencari contoh di sekeliling Anda. Intinya jika pernah ada orang yang berhasil melawan keterbatasan, Anda juga bisa. Singkirkan rantai gajah itu dan mulailah aksi nyata yang baru.

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s