Apakah Masalah itu Masalah?

Saya akan buka pembahasan ini dengan sebuah ilustrasi sebagai pengantar.

Alkisah di suatu perkampungan terdapat sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami – istri dengan enam orang anak. Mereka tinggal dalam sebuah rumah yang kecil dan sempit. Sang suami merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Lama-lama ia sudah tak tahan dengan keadaannya, ia pergi ke rumah tetangga yang memiliki lima anak dengan rumah yang juga sempit. Bedanya, sang tetangga tidak pernah mengeluhkan hal ini. Suami tersebut bertanya kepada tetangganya itu.

“Wahai sobat, kita punya masalah yang sama tapi bagaimana kamu bisa tahan dengan kesempitan ini? Aku tak bisa hidup seperti ini.“ Sang tetangga tersenyum dan balik berucap, “Aku lihat kamu punya cukup banyak ayam peliharaan, masukan ayam-ayammu itu ke rumahmu“.

“tapii…“

“Jika kau ingin bahagia sepertiku maka lakukan saja“.

Beberapa hari setelah sang suami melakukannya, ia kembali ke rumah sang tetangga, “Kacau!! Ayam-ayam itu mengotori rumahku, mereka bahkan tidur di kasurku! Lalu sekarang bagaimana?“ Dijawabnya dengan santai, “Jika begitu kembalikan saja ayam-ayammu ke kandangnya“.

Pulanglah ia dan mengeluarkan seluruh ayamnya. Esok hari ia kembali ke rumah tetangganya, “terima kasih“ katanya kepada sang tetangga “sungguh menyenangkan tanpa ayam di dalam rumah. Kami bisa istirahat dan tidur dengan leluasa. Rumah kami ternyata lebih luas dari yang kukira“.

Kadangkala kita lupa mensyukuri keadaan kita, kita silau karena selalu mendongak “ke atas” tanpa pernah melihat “ke bawah“. Sekali waktu kita perlu menengok sekitar, kepada orang-orang yang nyaris tak kita perhatikan. Banyak saudara kita yang lebih “bermasalah” tetapi tidak mengeluh dan tetap melanjutkan hidup penuh semangat. Saya pernah bertemu dengan seorang abang becak, ia cukup tua. Saat saya menumpang di becaknya, saya dapati nafasnya yang terengah-engah. Namun ia tetap bekerja, “demi keluarga” katanya. Ada juga seorang tukang tambal ban yang berusia tua, ia biasa mangkal di pinggir jalan dekat kos saya waktu mahasiswa. Ia berada di situ dari pagi hingga malam, panas ataupun hujan. Pernah suatu kali saya tambalkan ban motor kepada kakek itu. Luar biasa, ia berhasil membesarkan keempat anaknya dengan nafkah dari hasil kerjanya. Ia tidak mau meminta-minta, “malu” katanya.

Masalah adalah anggapan kita. Masalah bukan masalah jika kita tidak mempermasalahkannya. Setiap hal yang tidak kita inginkan bukan berarti masalah yang tak terselesaikan. Kegagalan demi kegagalan yang rasanya bagai tanpa secercah harapan, bukan alasan untuk berdiam diri menunggu mati. Michael Jordan, seorang primadona basket dunia, berkata “Sepanjang karir saya, saya gagal 900 kali melempar bola. Saya kalah di hampir 300 pertandingan. 26 kali saya dipercaya untuk melakukan lemparan kemenangan, dan gagal. Saya gagal dan gagal lagi di sepanjang hidup saya. Itulah sebabnya saya sukses.” Jordan menambahkan, “I can accept failure, but I can’t accept not trying!”, saya bisa menerima kegagalan, tapi saya tidak bisa menerima untuk tidak mencoba.

Coba lihat kembali sesuatu yang Anda anggap sebagai masalah itu. Apakah itu benar-benar masalah tanpa pemecahan? Atau Anda hanya terlalu awal menyimpulkan. Cobalah tips yang pernah saya sampaikan: melangkah sekali lagi saat Anda berpikir untuk berhenti. Bukankah Sang Pengatur Kehidupan menjanjikan:

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S. Al-Insyirah:6).

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… “ (Q.S. Al-Baqarah: 286)

Seringkali masalah muncul karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kita berhak untuk menginginkan yang terbaik bagi diri kita dan bagi orang-orang yang kita sayangi, tapi kadang kita berangan terlalu tinggi. Renungkan lagi apa yang dicari dari dunia ini? Bukankah nasehat Rasullulah cukup bagi kita.

“Barangsiapa pada pagi hari aman dalam kelompoknya, sehat tubuhnya, memiliki pangan untuk seharinya, maka dia seolah-olah memperoleh dunia dengan segala isinya (HR. Tirmidzi).

Jika kita memegang teguh keimanan kita dengan segala konsekuensinya, maka suatu permasalahan merupakan ujian. Dan sifat ujian adalah menaikkan derajat pelakunya apabila ia lulus. Sebagaimana seorang siswa SD menuju SMP harus melalui ujian, seorang calon wisudawan harus diuji tesisnya. Kabar bahagia bagi kita semua, bahwa Allah menjamin memberikan ujian yang mampu kita selesaikan. Memang butuh waktu, tapi dengan ijinNya, semua akan indah pada waktunya.

Apapun permasalahannya, sebenarnya keadaan kita bukanlah keadaan terburuk. Ada situasi lain yang lebih buruk. Katakanlah, seburuk-buruknya orang hidup lebih buruk mereka yang tidak pernah hidup. Dan, paling buruk adalah mereka yang hidup tanpa keimanan kepada Sang Pencipta. Karena sesungguhnya, ada banyak sekali keindahan dalam hidup ini. Keindahan alam, persahabatan, rasa sayang dan masih banyak sekali. Beruntunglah kita yang hidup berkesempatan untuk merasakannya. Merasakan hal-hal yang tak mungkin dinikmati mereka yang tak pernah hidup. Hidup ini memberi kita kesempatan berupaya mengejar kenikmatan abadi di surga nanti. Mari bersyukur atas apa yang bisa kita nikmati.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar- Rahman: 13).

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s