Allah SWT yang Mengatur

Kebanyakan manusia menganggap bahwa kesuksesan adalah tercapainya keinginan atau impian mereka. Namun sesungguhnya, tidak semua keinginan manusia dapat tercapai. Tentu semua manusia ingin sehat, tapi tetap ada di antara mereka yang sakit. Semua manusia ingin menjadi pemimpin, tapi tentu saja selalu ada yang dipimpin. Demikianlah bahwa tidak semua keinginan dapat dicapai. Banyak disuarakan jargon “tak ada yang tak mungkin”, menurut saya ada saja yang tidak mungkin, yaitu apapun yang dikehendaki Allah untuk tidak terjadi. Walaupun berkumpul seluruh jin dan manusia untuk memberikan satu saja kebaikan atau musibah kepada seseorang, tanpa ijin Allah maka itu tidak akan terjadi. Artinya, hasil usaha manusia mutlak berada dalam kehendakNya.

Akan menyenangkan bagi seseorang yang memiliki keinginan sejalan dengan kehendak Allah, karena tentu akan terwujud. Namun bagi orang yang memiliki impian yang berbeda dengan kehendak Allah apakah dikatakan sebuah musibah? Perhatikan firman Allah:

“…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Allah mengetahui kebutuhan hambaNya lebih dari pengetahuan hamba itu sendiri. Seseorang yang mendapatkan impiannya menjadi kaya harta, lalu lupa untuk beribadah kepadaNya karena merasa telah memiliki dunia. Tentu itu menyenangkan baginya, tapi bukanlah suatu kebaikan. Sebaliknya, seseorang yang diberikan musibah seperti kebangkrutan, tetapi itu membuatnya bersujud simpuh kepada Allah untuk memohon pertolongan. Tentu itu tidaklah menyenangkan, tapi merupakan kebaikan padanya. Sehat badan sebagai modal maksiat, dibanding sakit badan sehingga ingat bertaubat. Mana yang lebih menyenangkan dalam pandangan manusia? Namun mana yang lebih baik sejatinya? Sukses bukanlah terwujudnya impian, melainkan semakin dekatnya kita kepada Allah.

Kita sebaiknya memiliki tujuan dan impian dalam kehidupan. Namun, kemampuan kita terbatas pada dua hal: 1) meluruskan niat, dan 2) menyempurnakan ikhtiar. Selebihnya adalah hak Allah sepenuhnya. Karena, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, tidak semua keinginan manusia bisa terwujud. Dan tidak terwujudnya keinginan bukan berarti suatu musibah atau keburukan, karena Allah tentu telah memiliki skenario yang lebih baik bagi hamba-hambaNya yang bertaqwa dan berserah diri.

“…. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (Q.S. Ath-Thalaaq: 2-3)

Demikianlah bahwa Allah telah mengatur jatah bagi semua makhluknya. Contoh yang paling sederhana adalah cicak. Binatang itu hanya bisa merayap dan menempel di dinding, sementara itu, nyamuk yang menjadi makanannya dapat terbang dengan bebasnya. Namun kita dapati bahwa hingga kini cicak belum lah punah, bahkan menjadi langka pun tidak. Bukankah ini menjadi bukti yang nyata.

Suatu hari, roda depan sepeda motor saya kempes, saya pun berinisiatif menambah angin. Esoknya saya dapati roda depan itu kembali kempes. Tentu saja saya berpikir bahwa roda itu bocor. Saya berkeliling mencari tukang tambal ban untuk menyelesaikan masalah saya. Kemudian saya bertemu kios tambal ban, namun tidak ada orang yang bisa dimintai bantuan. Saya kembali berkeliling, untuk kedua kalinya saya menemukan kios tambal ban, dan sekali lagi saya tidak menemukan orang yang bisa membantu saya.

Akhirnya saya mendapati kios tambal ban yang ketiga kalinya. Alhamdulillah kali ini seorang pemuda penjaga kios itu sigap mengurus roda sepeda motor saya. Ia sempat kualahan memposisikan sepeda motor saya agar roda depan bisa terangkat, karena tanah yang tidak rata. Bahkan sepeda motor itu nyaris jatuh jika saya tidak segera menopangnya. Setelah berbasah peluh sekitar setengah jam mencari-cari lubang bocor di roda, ia tak kunjung menemukan. Dan memang benar, setelah saya ikut mencari pun tidak ditemukan lubang. Ia berkata, mungkin ini karena pentil rodanya tidak terpasang kuat. Saya hanya mengiyakan, walau saya sudah memeriksa pentil roda saat pertama kali mengisi angin.

Roda itu pun diisi angin saja setelah setengah jam mencari kebocoran. Semua jerih payah itu hanya seharga tiga ribu rupiah. Subhanallah, Allah telah mengatur rejeki untuk pemuda itu melalui saya. Roda kempes dua kali berturut-turut tanpa bocor, dua kios tambal ban yang kosong, dan tiga ribu rupiah untuk pemuda itu. Sungguh skenario yang indah sebagai jalannya rezeki dari Allah. Rasulullah pernah bersabda

“Sesungguhnya rezeki mencari seorang hamba sebagaimana ajal mencarinya” (H.R. Ath-Thabrani)

Biarkan Allah menentukan hasil bagi kita, karena itulah yang terbaik walau kadang kita tak menyukainya. Lalu jika hasil telah ditetapkan oleh Allah, untuk apakah kita berusaha? Mari kita simak jawaban Rasulullah,

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:

“Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: ‘Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia.’ Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: ‘Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha?’ Rasulullah saw. bersabda: ‘Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.’ Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: ‘Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.’ Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” (HR. Muslim No.4786)

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s