Afirmasi

Alkisah di sebuah hutan pada saat musim hujan, berpestalah para katak. Mereka bersuka cita menyambut musim hujan. Untuk merayakannya, para katak mengadakan lomba lari maraton mengelilingi hutan. Para katak jantan muda menjadi peserta, sedangkan yang lain memberi semangat tiada henti. Lomba dimulai, semua peserta saling melompat berusaha menjadi yang tercepat. Namun sial, hujan menyebabkan tanah longsor. Para peserta lomba terjerembab ke dalam sebuah lubang, para penonton mulai berkerumun di sekitar lubang.

Para katak yang terjebak mencoba kemampuan terbaiknya untuk melompat keluar, tapi apa daya lubang itu terlalu dalam. Para penonton tampak pasrah hingga bermunculan nada-nada menenangkan “sudahlah, kalian sudah cukup berusaha. Terbukti tidak berhasil” yang lain menimpali “berhenti sajalah, percuma”. Ramai mereka berbicara. Sadar akan keadaan dan pembicaraan mereka, satu demi satu katak mulai berhenti meloncat. Namun ada satu katak, yang ia tetap meloncat. Semakin tinggi dan semakin tinggi hingga ia berhasil keluar. Semua penonton tertegun dan heran, ditanyakan kepadanya “kenapa kamu keras kepala untuk tetap meloncat keluar?” sang katak hanya menjawab “terima kasih atas dukungan yang kalian berikan padaku”. Ternyata katak itu tuli, ia hanya berfikir bahwa teriakan para penonton adalah seruan semangat “ayo, kamu bisa lakukan. Keluarlah dari situ. Coba lagi!”

Terkadang kita berada pada situasi katak-katak yang terjebak itu, kita berusaha bangkit tapi suara-suara tertentu mengiang di kepala kita. Suara yang sangat menenangkan, “sudahlah berhenti saja”. Lalu kita pun berhenti.

Kita tidak membutuhkan penonton yang bersorak untuk kita karena di dalam kepala kita sudah ada begitu banyak suara. Saat Anda ingin berlibur, satu suara berkata ke pantai, suara lain berkeras ke gunung saja. Saat Anda menemukan dompet di jalan, satu suara berkata cari pemiliknya, yang lain menggoda ambil saja uangnya. Semua suara itu ada di dalam kepala kita, tanpa kehadiran orang lain di luar sana. Saya menyebut suara-suara itu sebagai pembisik gelap.

Namun Anda perlu memahami dua hal. Pertama, para pembisik gelap itu hanya memberi saran, Anda yang memutuskan untuk bertindak. Kedua, Anda pribadi memiliki suara yang lebih dominan daripada suara-suara pembisik gelap. Apa yang Anda katakan pada mereka akan mereka patuhi. Suara Anda itulah yang saya sebut afirmasi.

Secara umum afirmasi berarti memberi penguatan dengan berbicara pada diri sendiri. Saat Anda harus berbicara di depan umum lalu muncul suara yang membuat Anda gugup, katakan pada diri sendiri “saya telah membuat perencanaan dengan baik, saya sudah berlatih cukup, apapun yang terjadi saya siap hadapi” lalu Anda tampil percaya diri. Itulah afirmasi.

Berbicara kepada diri sendiri dapat mempengaruhi keyakinan dan konsep diri sehingga secara tidak sadar akan mengarahkan perilaku seseorang sesuai dengan afirmasinya. Dalam ilmu psikologi hal itu disebut sebagai self-fulfilling prophecy. Contohnya seorang siswa yang berkata pada dirinya “aku bodoh, untuk apa aku belajar. percuma”, lalu ia tidak pernah belajar atau belajar tidak serius hingga tiba ujian semester. Tentu ia tidak bisa mengerjakan ujian karena ia tidak belajar dengan baik. Namun yang ia katakan adalah “nilaiku buruk. Ini bukti bahwa aku memang bodoh”, selanjutnya ia terus menerus berkutat dengan perilaku sebagai orang bodoh.

Saya teringat dengan salah satu dosen saya di pasca sarjana. Sebuah kewajaran bahwa untuk menjadi pengajar di tingkat strata dua tentu minimal dosen tersebut harus bergelar doktor. Namun beliau masih bergelar master, walaupun secara kualitas tidaklah berbeda dengan para doktor.  Gelar yang “hanya” master membuat beliau terlihat sedikit minder pada awal mengajar kami. Pada pertemuan awal, beliau masuk ke dalam kelas dan kata-kata pertama yang beliau ucapkan dengan keras adalah “Apakah Anda sudah siap?” kontan hal itu membuat kami kebingungan “siap untuk melakukan apa? Apakah ada ujian mendadak?” pikir kami. Melihat wajah bingung kami, beliau segera menjelaskan bahwa kata-kata itu untuk dirinya sendiri agar siap mengajar dengan luar biasa. Beliau, seperti biasa, mengafirmasi diri untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Menurut saya, beliau berhasil, kuliah itu berlangsung menyenangkan.

Afirmasi sangat mempengaruhi kondisi jiwa. Ingatkah Anda pada panglima ketiga pasukan Islam di perang Mu’tah melawan dua ratus ribu tentara Romawi pimpinan Heraklius? Seorang yang mengangkat panji Islam setelah syahidnya kedua panglima Islam pada perang itu, Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib. Ya, dialah Abdullah ibnu Rawahah. Ketika tanggung jawab atas hidup-mati pasukan berada di pundaknya, sambil memandang kehebatan pasukan Romawi, terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Namun segera ia bangkitkan semangat pada dirinya dengan berseru,

Duhai jiwa, aku telah bersumpah ke medan laga. Tapi engkau seakan menolak surga. Duhai jiwa, jika tidak terbunuh, kau akan mati juga. Inilah kematian yang kau damba. Telah datang apa yang kau minta. Jejak keduanya (Zaid dan Ja’far sebagai syahid) sudah terbuka”

Ia gugur dalam jiwa keberanian menyongsong syahid membela Agama kebenaran.

Afirmasi membuat kita kuat, membuat kita teringat akan kemampuan diri kita yang hebat. Tak ada salahnya kita kembali mengingat sebuah lagu yang dipopulerkan oleh acara pencarian bakat musikal junior. Saya sangat menyarankan lagu ini kepada Anda, “Aku Bisa”.


Aku bisa, aku pasti bisa

Ku harus terus berusaha

Bila ku gagal itu tak mengapa

Sekiranya ku telah mencoba

Aku bisa, aku pasti bisa

Ku tak mau berputus asa

Coba terus coba sampai ku bisa

Aku pasti bisa

Iklan
Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Progresif. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s