KAMAR

Kasur di kamar kontrakanku ini sepertinya tidak layak menyandang predikat tempat tidur. Bentuknya lebih mirip keset yang disangga kardus di bawahnya. Agak berisi tapi keras. Aku lupa sudah berapa tahun lamanya kasur ini tidak lagi diganti kapuknya. Membuat kasurku tampak peyot, kempet, dan keriput. Perlu dibedah total dan dimasukkan kapuk-kapuk baru agar terlihat lebih berisi. Ternyata bukan cuma artis-artis Amerika dan Korea yang bisa melakukan operasi macam itu, kasurku juga perlu. Bedanya kalau kasurku dioperasi secara alami dengan kapuk, sementara artis-artis itu malah memilih pakai plastik. Baca lebih lanjut

Iklan
Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

PARKIRAN

“Sebentar Mas”, laki-laki paruh baya itu menunjukkan raut muka bingung sambil merogoh saku bajunya, kemeja putih lusuh dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka membuat tulang dadanya yang menonjol terlihat sempurna, sekalipun sebuah peluit menggantung di sana. Pak tua itu kurus.

“Sebentar Mas”, kalimat itu ia ulang lagi. Kali ini sambil merogoh saku celana kain yang dipakainya. Warna hitam celananya tak bisa menutupi serut-serut benang yang sudah mulai terlepas di ujung bawahnya. Tangan kanannya kesulitan menggapai saku kiri celananya. Seharusnya mudah jika ia menggunakan tangan kiri. Namun tangan kirinya sedang memegang sebuah tongkat lampu seperti pedang laser di film “Star Wars”, benda yang lumrah dipegang oleh seorang penjaga parkir. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

MINIMARKET

Ba’da Maghrib. Aku menyempatkan diri menuju minimarket terdekat untuk membeli “amunisi”: kue kering cokelat dan minuman sari kacang hijau. Rencananya malam ini, sehabis Isya, aku akan mulai menggarap tugas yang menguras pikiran. Karena itu wajar bila otakku perlu asupan, walaupun hatiku mengatakan itu cuma alasan pembenaran untuk jajan, aslinya perutku yang kelaparan.

Sekitar tiga menit aku terdiam di salah satu lorong minimarket itu, memandangi rak aneka kue kering.  Nafsuku menginginkan jajanan yang enak, sayang harganya melangit. Nalarku kerepotan memberi alasan kalau itu bisa bikin pailit (bangkrut). Begitu seriusnya aku memikirkan nasib perut dan dompetku yang tidak akur ini, sampai-sampai aku tidak sadar ada seorang anak kecil yang dari tadi berdiri di sampingku. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

PINTU

Aku tahu suatu saat akan bermasalah dengan pintu depan kontrakanku. Namun aku tidak menduga kalau itu terjadi sekarang.

Pintu ini adalah satu-satunya akses masuk ke dalam kontrakanku. Sebenarnya ada pintu teralis di loteng untuk menuju tempat jemuran, tapi untuk masuk lewat pintu itu aku harus memanjat talang air yang usianya sepertinya lebih tua dariku, jadi itu tidak sopan. Ada juga cara masuk lain yang bisa dilakukan seperti memecahkan kaca jendela atau menggeser genteng di atap sana, tapi itu tidak normal dilakukan. Jadi fungsi pintu ini sebagai gerbang sungguh tak tergantikan. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar

TELEVISI

Saudaraku membeli televisi baru. Buatan Jepang.

Ukurannya sekitar 32 inch, dan aku baru tahu ternyata ukuran televisi dihitung dari sisi diagonal layarnya, bukan panjang atau lebarnya. Kalau aku tahu hal itu dari dulu mungkin sekarang aku sudah buka toko elektronik. Tidak, itu bercanda. Warna televisinya hitam, sampai sekarang aku juga belum pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri ada televisi berwarna pelangi, atau mungkin transparan sekalian jadi aku bisa melihat ada berapa keluarga kecoak yang bersarang di dalamnya dan juga bisa melihat konspirasi di balik layar suatu acara. Ah, ada-ada saja. Baca lebih lanjut

Sampingan | Posted on by | Meninggalkan komentar